Jumat, 14 September 2012

Ainun Habibie : Lebih Indah dari Kisah Taj Mahal

Beberapa hari yang lalu saya berkunjung ke Toko Buku Gramedia. Ada satu hal yang sebenarnya berbahaya kalau saya pergi ke toko buku, yaitu keinginan membeli buku yang teramat besar. Hahaha.. Dan itu terjadi. Saya membeli empat buku! Dan salah satu buku tersebut adalah "Ainun Habibie : Kenangan Tak Terlupakan di Mata Orang-Orang Terdekat" karya A. Makmur Makka, dkk.

Saya tertarik menelusuri lebih dalam mengenai kehidupan keluarga Habibie sejak saya menyelesaikan membaca buku fenomenal karya B.J. Habibie "Habibie dan Ainun" yang telah saya uraikan pemaknaan saya akan buku itu disini.


dr. Ainun Habibie tergambarkan sebagai seorang istri yang tangguh. Melihat bagaimana Ibu Ainun mengarungi kehidupan menemani pendidikan promosi Doktor Ing sang suami di Jerman patut bagi kaum wanita Indonesia meniru dan mengambil manfaat darinya. Kerasnya hidup 3,5 tahun diawal kehidupan di Jerman menumbuhkan mental berdikari pada kedua pasangan ini.

dr. Ainun Habibie dalam bukunya ini juga tergambarkan sebagai seorang Istri yang sangat mendukung suaminya. "The Big you, The Small I", begitulah prinsip yang dipegang oleh Ibu Ainun. Ia lebih memilih untuk menjadi pendukung dibalik usaha dan kerja dari suami dibandingkan harus ikut mengejar kariernya sebagai seorang dokter.

Dalam Islam sang suami adalah imam dan demikianlah Ibu Ainun mengamalkan kehidupan keluarganya bersama dengan sang suami. Ibu Ainun begitu berperan dalam mendukung sepak terjang kehidupan suami. Tidak berkarier bukan berarti Ibu Ainun pasif dirumah, beliau aktif sebagai ibu rumah tangga yang mengurusi perkembangan anak-anaknya, Ilham dan Thareq. Dedikasi seorang Ibu pada anaknya yang totalitas inilah yang saat ini mungkin jarang kita temui di Indonesia terutama di Jakarta yang mana wanita sudah begitu sibuknya berkarier didunia pekerjaan dan menyerahkan pendidikan anaknya pada pembantu atau babby sitter. 

dr. Ainun Habibie juga tergambarkan sebagai seorang Istri yang taat beragama. B.J Habibie menjelaskan hampir tiap malam ketika B.J Habibie sibuk dengan tugas promosi doktoral nya di Jerman, Ainun selalu menghiasi malamnya dengan tilawah Al-Qur'an. Hingga hampir setiap bulan Ibu Ainun selalu khatam membaca Al-Qur'an. Kebiasaannya ini berlanjut hingga kembali ke Indonesia dalam pengajian Ibu-Ibu Pejabat dan juga masyarakat pada umumnya.

Sebuah potret wanita sholehah bukan? 
Pantaslah jika sang suami, Prof. Dr. Ing. B.J Habibie, merasa begitu kehilangan dan setelah disemayamkan di Makam Pahlawan Kalibata beliau tak pernah absen menziarahi makam sang Istri. Baginya Ainun sudah bersatu dengan dirinya, manunggal jiwa. Begitulah ungkapan sang mantan presiden kita yang ke-3 ini mengenai ia dan istrinya.

Oya ada yang menarik dalam buku ini.. 
Kisah Habibie dan Ainun lebih hebat dari pada kisah Taj Mahal yang dibangun untuk mengenai sang Istri dari Raja saat itu. Mengapa? Karena Kisah Habibie dan Ainun akan selalu ada dalam buku yang ditulis oleh B.J Habibie sendiri dan dicetak sedemikian banyak dalam berbagai bahasa. Hal ini tidak kita temukan pada kisah Taj Mahal. Hanya seonggok bangunan yang bisu. 

Semoga kita bisa mengambil hikmah dan pelajaran dari pasangan ini. Amin.
Beli dan baca bukunya ya...


Pradipta Suarsyaf, CH, CHt
sip! buku ke #41 ...#9 buku lagi capai target #50 buku sebelum koass..bismillah.


Share/Bookmark

0 komentar:

Poskan Komentar

Silakan berkomentar...

 
© Copyright by Good is the enemy of Great  |  Template by Blogspot tutorial