Kamis, 16 Agustus 2012

The Grand Design Stephen Hawking vs Eksistensi Tuhan

"Hal yang paling tidak dapat dimengerti mengenai alam semesta adalah bahwa ia dapat dimengerti"
Albert Einstein

Ungkapan yang pertama kali saya dengar saat SMA ini kembali menyeruak setelah selesai membaca buku The Grand Design karya Stephen Hawking. Seperti kembali ke masa-masa dimana saya masih berkutat dengan Fisika, Mekanika, Teori Relativitas, Planck yg bernilai 6.626068 × 10-34 m2 kg/s itu, dan lainnya. Bagi kalian yang masuk jurusan fisika semua itu makanan kalian ya? Hahaha...

Saya tertarik membaca buku ini karena saya dengar desas-desus media yang bilang kalau Stephen Hawking tidak percaya akan kuasa tuhan menciptakan alam semesta dan lebih percaya bahwa dalil ilmiah manusia adalah "Tuhan" sesungguhnya. Nah, akhirnya saya pinjam buku ini dari seorang adik kelas di kampus saya, Angga Maulana Ibrahim.


Buku ini berusaha menjabarkan bahwa segala sesuatu pasti ada kausul nya, pasti ada sabab musababnya. Keberadaan manusia di dunia dan untuk apa manusia diciptakan menjadi pertanyaan. Kemampuan berfikir manusia menjadi tolak ukur seberapa jauh manusia bisa menjawab pertanyaan itu. Penjabaran yang benar-benar berbasis fisika dalam buku ini benar-benar menyudutkan kemahakuasaan tuhan.

Mengapa? Karena semua diukur dengan realitas dan seperti yang dosen saya bilang mengenai cara berfikir orang barat yang rasional. Segala bentuk hal ghaib dan tak rasional langsung dibuang mentah-mentah. Itulah mungkin mengapa tingkat kepercayaan masyarakat barat pada Tuhan kian rendah, bahkan kini banyak yang memilih tak bertuhan. Tapi disini tak hanya orang barat ya.. :)


“Karena adanya hukum alam, seperti gravitasi, semesta dapat mencipta dirinya sendiri dari ketiadaan… Tak perlu untuk menyeru pada Tuhan untuk menyalakan kertas biru dan mengatur alam semesta.” (Hawking: God did not create Universe, The Times)

Buku ini menjelaskan bahwa alam semesta ini ada karena ada hukum-hukum yang berlaku atasnya. Hukum-hukum ini haruslah berlaku umum, dimana saja, dan kapan saja. Sehingga tak mungkin ada mukjizat! 

Buku ini bahkan mempertanyakan hal diluar batas kemampuan kita berfikir. Kalau kalian yang percaya dengan Tuhan berkata bahwa Alam Semesta ini diciptakan oleh Tuhan, maka pertanyaan kemudian akan bergeser menjadi siapa yang menciptakan Tuhan? Maka sampai titik ini ada sesuatu yang tak perlu dicipta, dan sesuatu itu disebut Tuhan.

Bahkan lebih 'sombong' lagi buku ini menerangkan : "pertanyaan-pertanyaan itu semua bisa dijawab dalam ranah sains saja, tanpa perlu membawa-bawa sosok ilahi" 

Huft...nelen ludah saya bacanya. Ini merupakan kesombongan yang nyata. Jika saya disini berusaha menandingi sang ahli fisika ini tentu kalah telak. Beliau menyampaikan suatu Grand Design yang menurutnya Tuhan tak ada, dengan penjabaran hukum-hukumnya. Semua berjalan karena ada sekumpulan hukum alam yang mengaturnya demikian. Disini saya berusaha memaparkan hal-hal yang menurut saya tak mungkin tapi ada dan nyata.

Pernah lihat perkiraan cuaca di televisi? ya, dulu ada sampai sekarang pun ada. Hanya di tv sudah mulai jarang. Coba perhatikan, seringkali perkiraan cuaca tak tepat memprediksi bukan? Lalu mau apa kalau seperti ini? Kemampuan manusia terbatas bukan? Ada yang mengaturnya bukan? Dan yg pasti lebih kuasa dibanding pengetahuan manusia..

Saya berkutat di dunia medis, cukup banyak saya dapati kenyataan2 medis yang tak sesuai dengan kenyataan. Diluar nalar. Seseorang yang menurut textbook hanya punya harapan hidup kecil bisa hidup sampai saat ini dan bisa bahagia.

hayoo, yang mahasiswa kedokteran atau orang medis pasti tahu bahwa masih banyak penyakit yang belum diketahui etiologinya? belum diketahui patofisiologinya.. bukankah itu pertanda masih ada batas ketidakmampuan manusia?


Saya meneliti tentang Bekam, bersama teman setim saya (Putra, Rahmatul, Husnita) dan sampai saat ini kami berhasil membuktikan kembali bahwa bekam yang termaktub dalam hadist nabi benar. Kami berhasil membuktikan bahwa bekam bisa mengatasi nyeri pinggang bawah dan nyeri kepala. Ada penurunan skala nyeri yang berarti di kedua lokasi nyeri tersebut.

Lanjut, kalau mau kita kaitkan lagi dengan Islam, bisa kita saksikan keberadaan Allah mengatur segala hal. Di posting sebelumnya Rasulullah memastikan Islam akan menaklukan Konstantinopel jauh sebelum kejadian tersebut! baru 825 tahun kemudian kejadian itu terbukti dan Islam berhasil menaklukan Konstantinopel yang merupakan kota terbaik terindah dan terkuat pertahannya di dunia saat itu. Hei, ini sudah diluar nalar manusia bukan? Selalu ada batas dimana manusia tak sanggup lagi campur tangan. 

Itulah mengapa Ust. Felix Siauw, berkata "Umat Islam bisa menaklukan Konstantinopel karena mereka percaya pada sesuatu yang tidak dapat terlihat oleh mata (hadist yang dikemukakan Nabi, 825 tahun sebelum Konstantinopel Islam rebut)" ..so, disinilah Islam mengajarkan keyakinan pada yang ghaib merupakan kebutuhan bagi manusia.

Justru orang yang tak ber-Tuhan akan stress karena tak ada tempat bergantung ketika ia membutuhkan tempat bergantung. Ingin bergantung ke manusia yang lain? Wong manusia yang lain juga punya masalah! Mana bisa menanggung stress seseorang. Maka itulah Allah memerintahkan kita beriman pada-Nya. Agar hati ini bisa bergantung pada yang Maha Mengerti dan Maha Segala nya. 

Bukankah sudah ada contoh orang yang melebihi kesombongan Stephen Hawking ini? Sebut saja Firaun, Ia bahkan menyebut dirinya Tuhan, tapi pada akhirnya ia berusaha dengan susah payah mengakui adanya Tuhan, namun sudah terlambat. Dia baru sadar bahwa ia tak kuasa menahan waktu kematian bukan?

Pernah beberapa pekan yang lalu saya menyaksikan acara Bukan Jalan-Jalan Biasa di TvOne. Saat itu sedang mewawancarai seorang Professor di Universitas Waseda Jepang asli Indonesia bernama Prof. Ken Sutanto . Beliau mengatakan bahwa "mahasiswa disini etos kerjanya tinggi, disiplin luar biasa, dan pantang menyerah. Tapi tak ada gading yang tak retak! Mereka tidak punya keyakinan, hidup mereka kosong." Oleh karena itu tingkat bunuh diri di Jepang terhitung tinggi.

Lalu, masih mengenyampingkan Tuhan dalam hidup kita?

Sebenarnya ada beberapa poin dalam buku ini yang saya setuju karenanya. Diawal-awal buku ini menjelaskan bahwa manusia cenderung menasbihkan apa yang terlihat oleh panca indera sebagai sebuah kebenaran mutlak. Namun jika diteliti lebih dalam dan menelaahnnya ke dunia yang lebih kecil (mikroskopis) maka belum tentu sama dan bahkan bisa sama sekali berbeda dengan kenyataan yang terlihat oleh indera. Nah, bukannya dari sini seharusnya membuat kita yakin bahwa tidak selalu yang kita lihat itu benar? Ilmu kita masih cetek sehingga apa yang kita yakini saat ini mungkin saja salah, dan bisa saja dimasa yang akan datang terbukti. Dan tak usah menunggu sampai saat itu tiba bukan untuk meyakini keterbatasan manusia?

Mungkin ada saat dimana semua akan terbukti kebenarannya dan membuat orang-orang berpengetahuan tinggi seperti Stephen Hawking sadar akan kekeliruannya. Dan semoga masih sempat. Saya menaruh hormat padanya karena oleh sebab orang-orang seperti inilah siapa tahu ada saatnya justru ialah yang menemukan bukti itu sendiri. Dan akhirnya membuat ia menjadi orang yg paling yakin akan Islam dan kebenaran Tuhan. Siapa tahu? Karena hanya Allah yang bisa membolak-balikan hati manusia.

yatta! buku ke #31 ~baca #50 buku sebelum koass~
Pradipta Suarsyaf


Share/Bookmark

3 komentar:

Posting Komentar

Silakan berkomentar...

 
© Copyright by Good is the enemy of Great  |  Template by Blogspot tutorial