Kamis, 19 Juli 2012

Jakarta Butuh Pemimpin yang Bawa 1/2 Jaminan

Sebagai orang yang sudah tinggal enam tahun di Jakarta, tepatnya di Jakarta Selatan bilangan Mampang Prapatan, sejak gubernurnya Sutiyoso sampai dengan Fauzi Bowo, saya tertarik dengan hiruk pikuk pilkada DKI Jakarta tahun 2012 kali ini.


Jujur saya cukup mengapresiasi setiap gubernur yang telah menjabat. Mungkin tanpa adanya Sutiyoso kita tidak akan menikmati angkutan umum seperti Transjakarta. Dan mungkin tanpa adanya Fauzi Bowo, Jakarta akan semakin parah banjirnya. Saya cenderung menghargai apa yang sudah dikerjakan dari pada mencari kelemahan dan rapor merah dari kedua gubernur ini. 



Saya justru agak aneh dengan orang yang selalu mengeluhkan pemimpinnya, selalu merendahkan pemimpinnya. Seperti mudah ya mengurus ibukota. Silakan bilang saya terlalu polos dan tak tahu apa-apa terkait ibukota. Memang saya hanya perantau keturunan padang sunda yang menuntut ilmu di Jakarta. Memang saya hanya seorang mahasiswa kedokteran yang tak cukup kapabilitas 'ngomong' politik. Tapi saya juga memperhatikan dan menyimak bagaimana ibukota terus berkembang.


Disini saya mengajak pada kalian yang 'terdampar' membaca tulisan saya ini untuk menghargai orang yang sudah berusaha membangun bangsa ini. Coba lihat sisi positifnya. Walau jika kita telusuri memang ada catatan merah disana-sini, tapi bukankah juga ada yang berkembang?


Bahkan dari setan yang sudah dipastikan masuk neraka pun kita bisa ambil sisi positifnya bukan? 


Coba cermati bagaimana 'istiqomah' dan 'disiplin' nya setan mengganggu manusia. Ga pernah kan setan mengeluh, "Aduh capek nih menggoda manusia.." Benar kan? Selalu ada sisi positif bahkan dari setan yang nyatanya musuh kebaikan.


Oke, setelah kita cermati bahwa gubernur DKI Jakarta saat ini juga punya prestasi, saya hanya ingin memberikan opini saya terkait masalah krusial (menurut saya), yaitu kemacetan di Jakarta.


Sejak pertama kali menginjakkan kaki di Jakarta tahun 2002 hingga tahun 2008, saya mendapati Jakarta ini semakin penuh sesak. Kalau kalian orang Ciputat, maka kalian pasti tahu Kopaja 'kematian' berkode 510. Dan Jakarta persis seperti padatnya penumpang Kopaja 510 ini! Penumpang saling berhimpit-himpitan bak sarden basi karena sudah bercampur keringat yang tak karuan! Jakarta saat ini sudah terlalu penuh dengan kendaraan.


Inilah rapor merah Fauzi Bowo dan juga gubernur sebelumnya, macet. Tak juga temukan solusi konkritnya. Pembangunan MRT yang tak selesai-selesai harus menjadi sorotan. Saya rasa Indonesia sebagai bangsa yang besar harus malu pada Kuala Lumpur dan Singapura yang sudah menerapkan MRT sejak lama. Sungguh MRT sangat efisien mengalihkan pengguna jalan untuk tidak memakai kendaraan bermotornya.


Jokowi atau Fauzi Bowo?


Awalnya saya tak terlalu peduli dengan pilkada DKI Jakarta. Namun setelah pilkada putaran pertama berlangsung, dan dengan mengejutkan pasangan Jokowi-Ahok menang di semua lini di DKI Jakarta mengalahkan Fauzi Bowo, saya menjadi tertarik dan coba mempelajari. Siapa orang Solo ini? Dan kenapa namanya jadi begitu mentereng di kancah politik nasional?


Karena tertarik saya coba mencari informasi dari internet...tentu langsung ke pakarnya Prof. Google :) dan saya mendapati video ini :






Kemudian saya menemukan video "Jakarta Baru" :



Dari kedua video ini saya menjadi sedikitnya faham mengapa Jokowi berhasil mencuri hati rakyat DKI Jakarta. Rakyat butuh pemimpin yang punya modal 'bukti sukses' sebelumnya untuk membangun kotanya.


Dan Jokowi punya modal ini! Dia sukses membangun kota Solo hingga diminta untuk berbicara didepan ribuan walikota dipertemuan PBB. Dengan slogan "the spirit of java" nya dia membawa perubahan signifikan selama hampir dua periode kepemerintahannya.


Yang ingin saya garis bawahi adalah bagaimana Jokowi menyelesaikan segala permasalahan dengan mudah dan tegas. Mudah karena solusi yang ditawarkan sebenarnya sederhana, bagai setetes demi setetes air yang bisa menghancurkan batu nan keras.


Setiap langkah sederhana dan pro rakyat inilah yang membuat branding dirinya melonjak di pilkada DKI Jakarta. Dengan modal dana tak seberapa dibandingkan pesaingnya, Jokowi memenangi putaran pertama pilkada DKI Jakarta 2012. 


Sebagai masyarakat awam dibidang politik saya termasuk orang yang tertarik dengan manusia satu ini. Walau saya juga punya kesan tersendiri dengan sosok seperti Hidayat Nur Wahid, tak lain karena peran yang HNW tunjukan saat memegang tampuk MPR. 


Namun kali ini kemasan yang dibawa oleh Jokowi lebih mengena dihati rakyat Jakarta. Karena apa? Nampaknya rakyat Jakarta tak melihat lagi asal partai. Rakyat Jakarta saat ini butuh pemimpin yang punya setengah jaminan perbaiki segala permasalahan DKI Jakarta saat ini. Dan itu hanya dimiliki oleh Jokowi dengan rapor emas "Spirit of Java" nya.. :)


Pada Fauzi Bowo saya tak menemukan 'ruh' nya lagi untuk dipercayai oleh mayoritas rakyat DKI. Banyak orang menilai Fauzi Bowo termasuk ambisius untuk kembali memimpin Jakarta. Walau memang perbaiki Jakarta tak cukup satu periode dan Fauzi Bowo berniat baik meneruskan visi misinya, tapi nampaknya rakyat butuh perubahan signifikan dari seseorang yang tadi saya sebutkan punya setengah jaminan.


Semoga DKI Jakarta mendapati pemimpin yang amanah dan bisa membawa perubahan lebih baik. Selamat bersaing kembali Pak Jokowi dan Pak Fauzi Bowo di putaran ke-2 pilkada DKI Jakarta !


Pradipta Suarsyaf
mantan penghuni Jakarta... :)
6th di Mampang - Jaksel


Share/Bookmark

2 komentar:

Posting Komentar

Silakan berkomentar...

 
© Copyright by Good is the enemy of Great  |  Template by Blogspot tutorial