Kamis, 05 Juli 2012

BEMPD CIMSA USMR : Mari Adil Berorganisasi di UIN Jakarta

Adil itu bukanlah sebuah keseimbangan 50:50
Adil adalah menempatkan sesuatu sesuai pada tempatnya


Sebuah kisah tak terelakan dari banyak insan mahasiswa kedokteran UIN Syarif Hidayatullah Jakarta dalam berorganisasi selayaknya memahami kaidah 'adil' diatas. Dalam berorganisasi kita dituntut profesional dan memahami konsekuensinya. Saya pun mengaku sulitnya mengatur kadar profesionalisme dalam mengikuti berbagai organisasi. Namun darinya saya banyak belajar bahwa learning by doing itu akan memberikan dampak langsung bagi pelakunya. Dan disini saya ingin berbagi mengenai adil yang sebaiknya kita usahakan dalam berorganisasi di kedokteran UIN Jakarta.



Pendidikan Dokter UIN yang baru berusia 7 tahun ini tengah terus tumbuh dan berkembang bak neonatus yang terus beranjak menjadi balita dan terus tumbuh disertai kematangan baik secara fisik dan mental. Para mahasiswa pendahulu dan juga beberapa dosen yang saya kenal memiliki peranan penting dalam perjalanan organisasi kemahasiswaan di kedokteran UIN. 


Sejarah bagaimana angkatan pertama pspd 2005 bekerja banting tulang membangun sebuah organisasi yang diakui oleh dekanat bernama BEM menjadi catatan sejarah yang tak akan terhapus oleh zaman. Dimulai dari BEM inilah kemudian mahasiswa mulai aktif dalam mengembangkan potensi nya diluar potensi akademik. Sesepuh pspd 2005 pun berupaya membangun fondasi organisasi yang kokoh bak fungsi progesteron dalam menebalkan dinding endometrium. Sehingga terbentuklah AD/ART BEM Jurusan Pendidikan Dokter sebagai dokumen resmi dasar organisasi BEM Pendidikan Dokter UIN Jakarta.


Kegiatan BEM yang general nampaknya tak cukup untuk menfasilitasi mahasiswa PSPD untuk mengaktualisasikan diri. Maka dengan dukungan dan juga prakarsa beberapa dosen didirikanlah organisasi lain yaitu CIMSA lokal UIN dan juga UIN Syahid Medical Rescue (USMR). Saya menganalisis dan mendapat informasi bahwa ada beberapa latar belakang mengapa kedua organisasi ini begitu mudahnya terbentuk di usia kedokteran UIN yang relatif sangat muda ini. 


Yang pertama, kekhawatiran beberapa dosen yang peduli pada mahasiswanya terkait dengan organisasi luar kampus yang merajalela di UIN Syarif Hidayatullah Jakarta. Isu UIN SH yang santer di media massa terkait liberalism tentu menjadi salah satu faktornya. Dan demi menangkal hal tersebut dibentuklah kedua organisasi ini sehingga mahasiswa kedoktern UIN SH teralihkan perhatian dan aktivitasnya hanya dalam ruang lingkup kampus, bahkan lebih spesifik dalam dunia organisasi kedokteran. Dalam hal ini CIMSA dan USMR.


Setuju? Jika masih ragu, coba perhatikan berapa fakultas kedokteran di seluruh Indonesia yang mengizinkan berdirinya organisasi kedokteran ekstra kampus? Tak banyak, jika kita ambil contoh CIMSA saja. CIMSA bersumber dari website resminya hanya terdapat di 20 FK di seluruh Indonesia. Padahal kita tahu ada lebih dari itu fakultas kedokteran di Indonesia, tapi mengapa hanya sekian yang terdaftar resmi?


Sedemikian protektifnya para dosen kita menjaga agar kita hanya beraktivitas di ruang lingkup kampus saja. Dan hal ini terbukti efektif. Mahasiswa menjadi aktif dan dalam waktu singkat salah seorang mahasiswa PSPD angkatan 2005 menjadi Presiden CIMSA. Sebuah bukti bahwa CIMSA lokal UIN sudah diakui secara nasional.


Demikian halnya dengan USMR. Terkait dengan upgrading skill mahasiswa dalam aplikasi klinis lapangan, para mahasiswa sesepuh kita dan beberapa dosen setuju sehingga terbentuklah organisasi yang saat ini sudah solid. Berbagai kegiatan dan lomba baik intrakampus dan ekstrakampus mereka lakoni. Sekali lagi implikasi pendirian USMR oleh dosen ini telah membuat mahasiswa kedokteran UIN aktif terpusat di ruang lingkup kedokteran.


Yang kedua, FKUIN termasuk kedokteran baru yang perlu booster sehingga bisa cepat lepas landas mengejar kemapanan FK-FK lain. Lebih spesifik dalam hal akreditasi sebuah FK. Banyak indikator akreditasi dan salah satunya adalah kegiatan yang melibatkan mahasiswa. Saya menganalisis bahwa dengan aktifnya mahasiswa di ranah organisasi kemahasiswaan yang punya relasi ke ruang lingkup nasional akan mecuatkan akreditasi FKUIN. 


Bukti absahnya adalah ketika saya selesai mengikuti 6th Hiroshima Summer School - Japan membawa nama UIN SH, saya memberikan laporan pada fakultas dalam hal ini bidang kemahasiswaan mengenai program apa saja yang saya ikuti disana. Dan secara terus terang pihak kemahasiswaan menjelaskan bahwa laporan tersebut penting untuk akreditasi fakultas. Nah, jelaslah manfaat keikutsertaan saya yang disokong oleh CIMSA yang dimediasi oleh BEM ini memiliki peran penting bagi fakultas kedokteran ini.


Yang ketiga adalah alasan esensial. Ya, saya percaya bahwa dengan berorganisasi mahasiswa akan belajar bagaimana berinteraksi antar mahasiswa, dengan dosen, dan bahkan dengan pihak luar kampus.


Lalu apa hubungannya? Hubungannya memang tak terlihat langsung karena ini terkait akhlak aka attitude, yang dengan berorganisasi diharapkan capaian dan perkembangan perilaku mahasiswa semakin dewasa dan lebih bertanggung jawab. Sehingga ketika memasuki fase klinik hal ini tak lagi menjadi masalah karena sudah dilatih melalui interaksi dalam berorganisasi.


Panjang lebar analisis saya mengenai terbentuknya 1 organisasi intrakampus dan 2 organisasi lainnya, lalu apa kaitannya dengan adil?

Ya, kita harus bijak dalam mengerti bahwa BEM Pendidikan Dokter adalah satu-satunya organisasi resmi yang diakui oleh dekanat. Dan ini penting. Terkait dengan CIMSA lokal UIN dan USMR, kedua organisasi yang kita banggakan ini berada dalam kontrol pengakuan dari BEM PD. Hal ini sesuai dengan AD/ART BEM PD yang menyatakan bahwa CIMSA dan USMR adalah Badan Kelengkapan BEM PD. Sampai titik ini saya rasa semua pihak sepakat.



CIMSA Nasional vs ISMKI dan CIMSA lokal UIN vs BEM PD


Saya merasa penting mengaitkan kata adil dalam pembahasan sub-posting ini. Setelah menimbang dan menganalisis begitu luhurnya latar belakang pembentukan 3 organisasi yang saya jelaskan diatas, maka tak ada hubungannya apa yang menjadi masalah organisasi intrakampus dengan ekstrakampus walau organisasi intrakampus itu punya hubungan dengan organisasi ekstrakampus.


Sudah bukan rahasia CIMSA Nasional punya ketidaksamaan pemahaman (kalau tak mau dibilang tak akur) dengan Ikatan Senat Mahasiswa Kedokteran Indonesia (ISMKI). Disini saya tidak ingin menceritakan bagaimana kisahnya walau saya tahu ceritanya baik dari versi CIMSA maupun ISMKI.


Yang esensial disini adalah masalah mereka bukanlah masalah kita sebagai Keluarga Besar Mahasiswa Pendidikan Dokter UIN. Maka biarlah itu menjadi masalah diluar sana dan jangan bawa-bawa masalah itu ke dalam kampus kita. Kalaupun ingin membantu saya rasa bukan kapasitas nya bagi kita untuk menyelesaikannya. Dan lebih spesifik saya katakan bahwa jangan bawa sedikitpun rasa dari ketidak-akuran kedua organisasi diatas kedalam kampus kita, baik itu dari mahasiswa related ISMKI maupun CIMSA.


Saya punya keyakinan bahwa rasa ketidak-akuran ini bisa muncul ketika ikut event-event luar kampus. Namun ingatlah bahwa kita adalah anggota keluarga pendidikan dokter UIN, dan saya rasa itu cukup menjadi benteng kuat menangkal virus rasa ketidak-akuran organisasi intrakampus dalam hal ini BEM yang merupakan anggota resmi ISMKI dan juga CIMSA lokal UIN yang merupakan anggota resmi CIMSA Nasional.


Saya ingin bercerita bahwa keberangkatan saya ke Jepang beberapa waktu silam juga karena jasa ISMKI dan CIMSA. Jujur saya katakan bahwa saya mendapat informasi Hiroshima Summer School dari website Hubungan Luar ISMKI, dan saya berangkat dengan menyertakan kartu anggota CIMSA. Kedua tersinergi hingga saya jadi berangkat ke Jepang dan kembali ke Indonesia. Lalu saya melaporkan kegiatan ini sebagai sebuah LPJ ke pihak dekanat dengan kop CIMSA dan BEM. Dan mengadakan Seminar Report bagi seluruh mahasiswa PSPD. So, semua berjalan seirama dan damai-damai saja. 


Walau analogi ini mungkin tidak nyambung tapi cobalah kait-kaitkan. Kita bisa kok bersinergi tanpa membawa masalah dari luar. Nah, disinilah letak adilnya...taruhlah maksud terbentuknya ketiga organisasi ini pada tempat selayaknya di PSPD UIN Jakarta, dan jangan bersikap tidak adil dengan membawa masalah luar ke dalam PSPD UIN Jakarta.


Semua karena satu alasan! Karena Kita Keluarga...
Dan keluarga tak mau diganggu oleh masalah diluar keluarga kita bukan?


NB :
saya tak membahas tentang kaitannya dengan USMR karena saya tak tergabung di organisasi ini. Namun jika ada hal yang sama saya rasa solusinya tak jauh berbeda :)


Demikian opini ini saya sampaikan. Semoga bermanfaat :)


Pradipta Suarsyaf
Wakil Ketua BEM Pendidikan Dokter 2012/2013
UIN Syarif Hidayatullah Jakarta








Share/Bookmark

2 komentar:

Posting Komentar

Silakan berkomentar...

 
© Copyright by Good is the enemy of Great  |  Template by Blogspot tutorial