Jumat, 11 Mei 2012

Resistensi Antimikroba – Permasalahan Kita Bersama

Resistensi antimikroba merupakan permasalahan yang sepatutnya diketahui dan dipahami oleh mahasiswa bidang kesehatan. Oleh karena itu, ISMAFARSI (Ikatan Senat Mahasiswa Farmasi Seluruh Indonesia) bekerja sama dengan CIMSA (Center for Indonesian Medical Students’ Activities) telah mengadakan Antimicorbial Resistence Symposium (AMRS) pada Sabtu, 5 Mei 2012 di Ruangan Auditorium Gedung Perpustakaan Pusat Universitas Indonesia, Depok. Kegiatan ini dihadiri oleh mahasiswa kedokteran dan farmasi dari berbagai universitas bahkan dari luar pulau Jawa. 



Simposium ini terdiri dari 3 sesi yaitu sesi triggering, focus group discussion dan plenary. Sesi triggering diisi oleh presentasi para pakar tentang topik yang penting diketahui mahasiswa mengenai resistensi antimikroba. Topik tersebut berupa perkembangan resistensi antimikroba serta dampak bagi masyarakat dan berbagai masalah yang menjadi penyebab mudahnya resistensi antibiotik yaitu rendahnya moral, regulasi, pendidikan dan penelitian dalam hal penggunaan antibiotik. 


Semua topik presentasi tersebut dijadikan sebagai pemicu untuk mengembangkan ide mahasiswa yang akan dituangkan dalam focus group discussion pada sesi berikutnya. Pada focus group discussion, seluruh peserta dibagi menjadi 4 kelompok khusus yang masing-masing kelompok tersebut membahas satu dari topik berikut: moral, pendidikan, regulasi, atau penelitian dalam hal resistensi antimikroba. 


Prof. dr. Usman Chatib Warsa, Sp.MK 
Akhirnya, ide yang terkumpul dalam focus group discussion akan di presentasikan oleh setiap grup dalam sesi terakhir yaitu plenary session. Hebatnya acara AMRS ini adalah setiap sesi selalu dipantau para pakar yang siap membantu mahasiswa dan memberikan feedback. 


Banyak sekali topik dan pemikiran yang tergali melalui sesi-sesi tersebut. Tentunya, diawali dengan presentasi para pakar yang membuka mata peserta tentang permasalahan apa saja yang kita hadapi. 




Berikut adalah tema dan pembicara dalam sesi Triggering :

  1. Perkembangan Resistensi Anti Mikroba Dewasa Ini serta Dampak Bagi Masyarakat oleh Prof. dr. Usman Chatib Warsa, Sp.MK
  2. Masalah Penyebab Resistensi Antibiotik : Moral oleh Prof. dr. Iwan Dwiprahasto, M.Med.Sc, Ph.D
  3. Masalah Penyebab Resistensi Antibiotik : Regulasi oleh Dra. Maura Linda Sitanggang, Ph.D
  4. Masalah Penyebab Resistensi Antibiotik : Penelitian oleh Prof. Dr. M. Kuswardi Tritodiharjo, SU, M.Phil. Apt
  5. Masalah Penyebab Resistensi Antibiotik : Pendidikan oleh Prof. Dr. Maksum Radji M.Biomed, Ph.D, Apt

Secara umum semua pembicara menyampaikan setiap tema dengan luarbiasa. Mungkin tak ada mahasiswa yang menyesal mengeluarkan uang untuk mengikuti simposium ini. Dari semua pembicara, sangat menarik apa yang disampaikan oleh Prof. Iwan. Beliau secara gamblang manjelaskan bagaimana permasalahan resistensi mikroba di Indonesia. Dari mulai permasalahan bedanya obat generik dengan obat branded sampai dengan begitu mudahnya dokter memberikan antibiotik kepada pasiennya.


Beliau mengatakan bahwa jika permasalahan resistensi mikroba terhadap antibiotik ini tidak juga terpecahkan maka dapat diprediksi pada tahun 2020 dunia akan kehilangan antibiotik/mikroba yang ampuh menangani infeksi, seperti masa sebelum ditemukannya penicilin. Hal ini sangat-sangat mungkin jika melihat trend yang memilukan bahwa sangat sedikitnya pengembangan penelitian oleh produsen obat/peneliti untuk menemukan antimikroba yang baru. Apa alasannya? Hal ini tak jauh dari uang. Mengapa? Karena untuk apa perusahaan obat memproduksi obat yang sudah dapat diprediksi akan cepat resisten. Jelas hal ini bagi perusahaan obat sangat merugikan. Mereka jelas lebih memilih untuk memproduksi obat-obat jangka panjang semisal obat cardiovascular disease dan penyakit kronik lainnya.


Beliau juga mempermasalahkan seringnya dokter memberikan resep dengan edukasi yang kurang. Contohnya saja bagaimana obat antibiotik amoxicilin yang biasa diberikan tiga kali sehari (3x1). Secara farmako seharusnya obat diminum selang 8 jam sekali. Sehingga kurang tepat jika dokter menuliskan resep "S 3 dd 1" karena pasien biasanya minum obat pagi jam 7, lalu siang jam 12, dan malam jam 7 malam. Coba hitung berapa lama jarak minum obat ketiga dengan minum obat keesokan harinya, lebih dari 8 jam. Sehingga efek terapeutik tidak akan tercapai. Prof. Iwan sampai berkata, "kayak gini mau sembuh!". Hal seperti inilah yang juga mempercepat resistensi mikroba terhadap obat antimikroba. Lebih tepat jika ditulis : "S o 8 h", sehingga efek terapeutik nya tercapai setiap 8 jam sekali minum obat. 


Prof. Dr. Maksum Radji M.Biomed, Ph.D, Apt.


Selain itu tidak hanya sebatas superfisial untuk mengetahui apakah itu resistensi antimikroba dan dampaknya nanti tetapi juga tantangan apa saja yang kita hadapi dalam upaya mengatasi resistensi antimicrobial tersebut. Dari segi pendidikan, bagaimana mendidik seluruh mahasiswa dari berbagai bidang kesehatan baik kedokteran, kedokteran gigi, keperawatan, farmasi, kesehatan masyarakat dsb agar mengerti dan saling bekerja sama dalam upaya pencegahan resistensi antimikroba. Bagaimana mengintegrasikan berbagai fakultas/program studi tersebut hingga dapat belajar berdampingan? Begitu pula dengan permasalahan meningkatkan moral, mengawasi regulasi dan mengembangkan penelitian tentang antimikroba yang semakin lesu.


Permasalahan resistensi antimikroba memang merupakan suatu topik yang sudah sering didengar oleh mahasiswa di bidang kesehatan. Oleh karena itu, tidaklah mengherankan apabila kegiatan seperti AMRS ini laris diikuti oleh para mahasiswa karena keinginan untuk mengetahui lebih dalam mengenai sebesar apa permasalahan yang kita hadapi saat ini. 


Alhamdulillah, acara ini semakin membuka mata kita bahwa resistensi antimikroba merupakan masalah yang tidak hanya berupa suatu kuliah dari dosen, bahan bacaan di textbook atau pun bahan diskusi dalam diskusi kasus namun merupakan suatu permasalahan yang sudah ada didepan mata. Masalah yang harus dihadapi bersama baik oleh seluruh praktisi kesehatan, calon praktisi kesehatan, pemerintah bahkan masyarakat itu sendiri. Melalui kegiatan AMRS kemarin kita mendapatkan banyak ilmu dari para pakar dan bahkan diajak ikut berpikir dalam sudut pandang mereka sehingga semakinlah nyata masalah resistensi antimikroba tersebut.


Semoga dengan kegiatan seperti ini, kita semakin terpacu untuk mengambil tindakan dalam penanganan resistensi antimikroba. Minimal sebagai seorang mahasiswa yaitu dengan terpacunya keinginan dan keseriusan dalam belajar selama pendidikan untuk mengemban ilmu yang nantinya dengan sebaik mungkin diaplikasikan dalam praktek di lapangan pekerjaan nanti. Two thumbs up untuk ISMAFARSI & CIMSA buat acaranya yang sukses dan insyaAllah sangat bermanfaat. Semoga tahun depan kegiatan seperti ini bisa dilaksanakan lagi dan bmungkin akan lebih baik jika melebarkan sayap mengikutsertakan mahasiswa dari bidang kesehatan lainnya :). Amin … 



_____________________________________________________
Antimicrobial Resistance Symposium 2012 (AMRS)
ISMAFARSI (Ikatan Senat Mahasiswa Farmasi Seluruh Indonesia)
CIMSA (Center for Indonesian Students’ Activities)



Joint article by :
Husnita Thamrin
Pradipta Suarsyaf
as participant of AMRS 2012


Share/Bookmark

0 komentar:

Poskan Komentar

Silakan berkomentar...

 
© Copyright by Good is the enemy of Great  |  Template by Blogspot tutorial