Rabu, 02 Mei 2012

Dokter Umum Bukan Orang Bodoh


forward artikel bagus dari blog nya Bang Fadjar & Mba Muti...
_____
Dua hari lalu saya tersentak membaca sebuah artikel nelangsa tulisan seorang dokter PTT, RD, yang sepertinya bertugas di Papua. “Orang Bodoh yang disebut Dokter Umum” judulnya. Semakin membuat tersentak ketika seorang senior saya, dosen muda di universitas asal saya, hari ini menyampaikan kalau tulisan ini mendapat banyak apresiasi dan “pengaminan” dari para dosen senior. Meski sebetulnya ketika saya menjalani kuliah S1pun saya seringkali menjumpai dosen-dokter yang curhat mengenai kesejahteraannya sebagai dosen-dokter di bawah sistem yang berjalan. Saya menjadi tergerak untuk turut “meramaikan” respon terhadap tulisan ini setelah membaca dalam sebuah milis kebijakan kesehatan salah seorang professor idola saya menstimulus para member untuk mengomentari artikel ini dengan tulisan yang saya sesuaikan dengan pengetahuan-pemikiran, pengalaman dan status saya.



Keputusan saya membuat tulisan respon ini setelah saya membaca artikel tersebut berkali-kali dan menyimpulkan bahwa artikel ini “ekstrim bawah”, dalam arti meski berbasis fakta dan pengalaman nyata, DR menumpuk-numpuk kemalangan diri dengan junior-juniornya sehingga mewujudkan citra dokter umum yang bodoh. Bodoh secara finansial dan akan ke-Maha Besar-an Tuhan lebih tepatnya yang dikemukakan di sana. Tulisan bergaya seperti ini menurut saya berpotensi memunculkan inferioritas pada sahabat-sahabat saya yang sedang menjalani ko-ass dan yang baru disumpah menjadi dokter umum, menurunkan minat saudara saya untuk menjadi dokter umum, menumbuhkan kecemasan di kalangan masyarakat awam dan ancaman depresi bagi dokter umum yang kebetulan nasibnya serupa di daerah PTT sana. Sementara tulisan saya ini saya niatkan sebagai penawar agar motivasi kami yang sedang dan akan menjadi dokter umum tidak jeblok.


Pada paragraph pertama artikel tersebut, penulis (saudara RD) langsung memfokuskan topik bahasan pada nasib dokter dari segi ekonomi, khususnya dokter umum. Pada paragraph kedua, artikel tersebut menceritakan betapa nasib dokter umum (secara ekonomi) sudah sedemikian blangsaknya sejak masa kuliah. Uang pendaftaran, uang semesteran, uang buku yang hingga ratusan juta rupiah ditengarai sebagai penybabnya. Sebetulnya penulis sudah insyaf menyatakan, “bagi mahasiswa menengah ke bawah dengan tekad kuat dapat mensiasati biaya pendidikannya”, tetapi gejala depresi yang mungkin terlanjur melekat beberapa waktu menutupi pernyataan positifnya sendiri lalu melanjutkan kisah keluhannya.


Mengingat status saya baru sarjana kedokteran, kehidupan finansial mahasiswa kedokteran yang saya ingin kupas lebih dalam.


Betul biaya masuk fakultas kedokteran (FK) mencapai puluhan bahkan ratusan juta. Kebijakan pemerintah menganggarkan 20% APBN untuk pendidikan tidak berpengaruh terhadap “tariff masuk” ini. Justru makin tinggi dari tahun ke tahun. Tapi beruntung, dokter DSL, sahabat SMP saya yang cerdas dan gigih. Bersama beberapa kawannya ia berhasil berdiskusi dengan pimpina fakultas saat itu sehingga biaya masuk dari 25 juta turun menjadi 5 juta dan gratis mereka setelah dinyatakan lulus seleksi UMPTN. Jadi usaha dulu, jangan salah memahami artikel bilang mahal dan nyerah.


Sahabat saya lain, Z, alumni sebuah madrasah di Sukabumi saat ini sedang menjalani ko-ass berhasil mendapatkan beasiswa dari Departemen Agama dan ditanggung biaya masuk, kuliah, buku, hidup bulanan sejak awal hingga menjadi dokter. Sejumlah beasiswa S1 dalam negeri pun tersebar luas jika seorang calon mahasiswa memang berniat mendapatkannya. Apalagi kini telah ada beasiswa Bidik Misi dari Kemendiknas. Beberapa universitas pun terus meningkatkan proporsi mahasiwa yang terjaring beasiswa lokal universitas. Sebut saja UGM dengan beasiswa UGM Peduli yang mencakup 17% mahasiswanya. Belum lagi beasiswa yang diselenggarakan berbagai perusahaan dan yayasan, sebagai contoh Beasiswa dari Lembaga Pendidikan Nurul Fikri yang bahkan menyediakan asrama dan biaya hidup untuk mahasiswa. Saya sendiri setelah gagal diterima beasiswa BOP UGM dibisiki oleh staff bagian kemahasiswaan rektorat, “Mas, coba yang dari Kalbe saja. Masih sedikit yang daftar”. Jadi sebelum putus harapan lihat faktur biaya masuk fakultas kedokteran, lihat dulu peluang beasiswa terbentang. Beramahtamahlah dengan teman mahasiswa, dosen kita, dan staff non-akademik, tambah saudara pasti tambah rezekinya.


Saya baru mengetahui informasi beasiswa di tahun kedua kuliah, tahun ketiga baru berhasil diterima. Jumlahnya pun hanya cukup menutupi biaya semesteran sebagian saja. Jujur biaya masuk yang harus kami bayar puluhan juta jumlahnya, beruntung saya memiliki Ibu dan Almarhum Bapak hebat yang membekali teladan semangat dan kerja keras tiada dua. Seperti mimpi, empat bulan terakhir menjelang pembayaran di luar dugaan aktivitas network marketing Ibu saya yang PNS golongan IIIC menghasilkan bonus yang mencukupi untuk membiayai dana masuk FK. Coba tes masuk FK dulu, Tuhan Maha Kaya, kalau memang diterima pasti ada saja jalan-Nya. Terbukti beberapa kali diberitakan anak tukang becak berhasil jadi dokter di FK UGM.


Berjanji pada diri sendiri untuk mengembalikan biaya masuk FK pada Ibu sebelum jadi dokter bahkan sarjana, sambil kuliah saya coba banting tulang dari ujung crania sampai phalangea. Jualan produk lintas network marketing, menjadi agen asuransi, memasarkan apartemen, franchise pulsa, suplemen, aksesoris, parfum, hingga tas wanita tiga tahun aktif saya lakoni silih berganti. Alhamdulillah setahun sebelum lulus Tuhan mengabulkan target saya.


Apa yang saya lakukan bukan hal aneh apalagi luar biasa. Teman angkatan 2007 saya, Bang L, sepanjang masa kuliah sarjana setia menjalani bisnis pulsa hingga merambah ke gerai milkshake. Saat ini sembari ko-ass ia mengembangkan usahanya hingga sektor konveksi. Tidak gengsi facebook nya kini dipenuhi foto sepatu dan jaket desaign terkini. Trio kawan angkatan 2007 sayang yang lain, B-B-K, sejak tahun ketiga membuka usaha bersama kafe Si Omay di kampus kami tercinta dan terus berkibar hingga kini. I, membuka usaha cakery, fashion dan accessory. Sahabat lain D, bersama kelompoknya sukses mengembangkan usaha Sukery, Sukun Bakery, usaha bakery berbahan dasar sukun dan kini ia mendapat beasiswa untuk mengikuti ko-ass di Italia. Saya rasa dia bisa menabung cukup banyak kelak untuk melanjutkan ko-ass nya di Jogja.


Lebih fenomenal, seorang senior dari angkatan 2005 Mas Dokter T, berhasil merintis dari nol dan mempopulerkan bisnis fotokopi 24 jam pertama di Provinsi Yogyakarta dan kini memiliki satu-satunya stadion futsal yang terletak di pusat kota Jogja. Yang bersangkutan kini sebagai dokter umum aktif melakukan penelitian kebijakan kesehatan di daerah pedalaman di NTT dan menjadi nominasi penghargaan Millenium Development Goals Award di bawah arahan Prof. Laksono Trisnantoro.


Di tahun kedua, saya ingin sekali ke luar negeri tanpa biaya. Tulisan saya tentang kehidupan akademik mahasiswa FK tempat saya belajar dinilai layak sehingga berhak mengikuti rombongan BEM FK ke Malaysia dan Singapura dengan biaya fakultas. Saat itu BEM FK hanya menyediakan dua jatah untuk mahasiswa non-pengurus BEM, anehnya hingga deadline berakhir BEM hanya menerima dua buah karya. Coba dulu, Tuhan selalu punya jalan.


Tiba di Malaysia, melihat buku Oxford Handbook of  Clinical Medicine dan seri lainnya yang sedang digemari di kalangan mahasiswa FK dijual dengan harga hanya sepertiganya di Indonesia, berkat pemerintah Malaysia mengcover sebagian besar buku kedokteran, bersama kawan-kawan kami mendadak membuat “joint-venture” kulakan buku-buku tersebut dan kemudian kami jual kembali di Indonesia dengan pasar UI, Unpad, UNS, Unibraw, hingga Udayana. Alhamdulillah pulang studi banding, kami justru menyebarkan ilmu dengan berjualan buku dan turut mensejahterakan kehidupan mahasiswa. Kelakuan kami ini akhirnya banyak ditiru dan berkembang menjadi usaha yang dikawal oleh Bang L, N, dan A. Semua masih kawan kami di angkatan yang sama. Uniknya, banyak di antara mereka yang kemarin lulus dengan predikat cum-laude.


Kelakuan kami yang unik ini sebetulnya bukan fenomena baru, jauh-jauh hari hampir lima puluh tahun ke belakang dr. Lucas Meliala, Sp.S menjalani kuliah kedokteran sambil menarik becak, kemudian berkembang menyewakannya hingga 41 buah, berkembang menjadi perusahaan truk, berkembang menjadi salah satu perusahaan bus pariwisata terbesar di DIY-Jateng saat ini. Begitu juga perjuangan Dokter Gideon pendiri apotek waralaba K-24. Tidak jauh-jauh, dosen kami yang berselisih usia kurang dari sepuluh tahun dari kami kini sedang naik daun di wilayah Kulon Progo akibat kesuksesan membuka usaha Bakul Bakmy yang menggunakan logo BB plesetan Blackberry.


Di paragraph ketiga, RD melanjutkan keblangsakan nasib dokter umum saat mengenyam status freshgraduate. Harus UKDI, STR, SKP, dan lain-lain yang ujung-ujungnya dikalkulasi dalam skala nominal. Ujung-ujungnya duit. Mudah saja, namanya jadi dokter ya memang begitu tahapannya. Di Eropa di Amerika, berbagai tahapan tes dan sertifikasi memang harus dilalui dan berbiaya relatif tinggi. Kalau tidak mau begini ya buka lapak saja. Pengacara, bankir dan profesi lain pun memiliki kenjlimetannya sendiri. Kalau hal teknis begini ingin terus dipermasalahkan tanpa berkontribusi aktif dalam solusi, silakan saya rasa lebih baik memilih meninggalkan kehidupan. Kalau masalahnya adalah kontraprestasi finansial yang tidak berimbang perlu diinsyafi lagi bahwa setiap pilihan memiliki konsekuensi. Memilih PTT berkonsekuensi ditempatkan di tempat nun jauh dan tidak berimbang secara finansial pendapatan dan pengeluaran. Karena kolaborasi kebijakan PTT dan kemampuan pemerintah Indonesia dalam meregulasi, dari dulu hingga kini ya begini. Kalau hanya punya bekal keluhan bukan solusi jangan pilih jalan ini, atau pilih setelah punya bekal cukup nanti. PTT sendiri sebuah “investasi”, meski diceritakan sering hidup dalam kondisi sulit saat di daerah, kelak alumni PTT mendapat prioritas untuk masuk residensi dibanding yang tidak PTT. Ada perjuangan ada hasil. Jer basuki mawa beo. Menteri Kesehatan pun memulai karirnya dengan PTT di daerah terpencil.


Kalau ingin PTT tapi tidak sengsara finansial, mungkin bisa mencontoh senior saya Dokter YH. Begitu bergelar dokter beliau tidak langsung PTT tapi mengumpulkan pengalaman dan rizki sebanyak-banyaknya di Yogyakarta. Dalam seminggu, inilah aktivitasnya: mengisi acara konsultasi kesehatan di radio, menjadi dokter jaga dan praktek di rumah sakit dan klinik, menjadi website developer pusat studi pengembangan kurikulum pendidikan kedokteran, berpartisipasi dalam sunatan massal, menulis artikel kesehatan popular, dll. Rezeki tambahan tidak selalu dari berbisnis. Tapi upaya beliau memang ekstra dan strategi beliau realistis, kelak menjalani PTT insyaAllah sudah berbekal finansial lebih dari yang langsung nyemplung. Dengan demikian selain mendapat pengalaman klinis, beliau tetap dapat bisa menghasilkan rezeki cukup, tetapi menjadi manfaat dan saya amati dari FB nya tiap dua minggu sekali beliau bisa jalan-jalan ke luar pulau Jawa.


Kalaupun ingin segera PTT dengan modal nekat (ilmu cukup, doa banyak, financial minimal), bisa belajar dari dokter-anthropologist Paul Farmer lulusan Harvard, yang bersama sahabatnya Jim Yong Kim (kini Direktur World Bank) dan mendirikan NGO Partners in Health, yang mendedikasikan diri sepenuhnya di Haiti meski awalnya tiada sebuah badan pun yang menggajinya, semua ia lakukan dengan sukarela, tingggal di apartemen bekas seadanya, sempat terkapar karena kehabisan makanan, namun kemudian novel tentangnya menjadi sangat popular di seluruh dunia, “Mountains beyond Mountains: A Man Who Would Cure The World” yang diterjemahkan ke dalam bahasa Indonesia dengan judul Cinta dan Pengorbanan Seorang Dokter.


Untuk PTT ini saya tidak dapat membahas terlalu banyak mengingat minimnya pengetahuan dan pengalaman saya. Mengingat focus RD adalah kesejahteraan dokter umum yang diukur secara finansial, lebih akur jika pembahasannya mengarah ke kesempatan menjemput rizki finansial. Saya agak keberatan kalau karena kurang cerdas financial dokter umum dibilang orang bodoh.


Pada akhirnya, hidup adalah pilihan. Setiap pilihan membawa konsekuensi. Ketika konsekuensi datang tinggal seberapa luas hati kita untuk bersyukur dan menerima atau menggerutu sambil tidak bisa menolak. Saya sendiri tidak punya cukup banyak uang untuk melanjutkan ko-ass saat menjelang wisuda. Meski ibu akan memperjuangkan sisa biaya pendidikan, saya berusaha dulu untuk mencarinya sendiri. Maka saya memutuskan melamar beasiswa pertukaran Erasmus Mundus, rupanya saya diterima. Tinggal di Eropa sepuluh bulan seorang diri bukan pilihan yang mudah buat saya yang dulu telah menemukan pujaan hati, daripada menunggu sukses ala dokter (jadi spesialis) untuk bisa bulan madu ke Eropa, saya ajukan lamaran kepada calon istri untuk menikah. Alhamdulillah, kini kami bisa curi start bulan madu ke Eropa meski gelar dokter pun belum saya dapat.


Kini sembari mengikuti aktivitas akademik di Belgia, saya bersama kawan-kawan di Indonesia melanjutkan proyek kerjasama jilid dua dengan salah satu produsen ponsel  sebagai kontributor healt lifestyle content. Pekerjaan yang kami niatkan untuk “menyehatkan” orang Indonesia melalui promosi kesehatan ini sekaligus menjadi ikhtiar kami menjemput rezeki. Untuk saya inilah cara membiayai rumah tangga kelak sebagai ko-ass yang tidak bergaji. Juga mengikuti saran paman dan bibi, sebelum wisuda tahun lalu saya menanam bibit sengon dan jati yang insyaAllah akan dipanen kelak untuk biaya masuk TK di kemudian hari kami dianugerahi putra. Saya rasa lebih produktif membuat inisiatif seperti ini, daripada mengeluh jadi ko-ass yang tidak digaji (mau ko-ass ya harus terima tidak digaji, memang itu proses yang harus dilalui), kalah “nasib” sama teman seangkatan yang sarjana ekonomi yang sudah bekerja di segitiga emas Jakarta dan bergaji kemudian curhat menularkan pesimisme dan nelangsaisme di FB dan media lainnya.


Padahal cita-cita saya dulu jadi dokter dulu, baru cari beasiswa master lalu membawa istri ke Eropa. Itulah kehidupan, jalannya berliku, kita harus aktif tapi juga fleksibel dalam menjemput rezeki Tuhan. “God gives, but doesn’t share”. Tuhan memberikan semuanya pada manusia, nyoh pek’en kabeh bumi dan isinya. Tapi kita manusia sendiri yang ribut memperebutkan pendistribusiannya. Celakanya bukan berusaha merebut haknya, malah sebagian kita sibuk mengeluh di sosial media. Sadar atau tidak berpotensi besar menyebar negativisme ke masyarakat Indonesia lainnya.


Meskipun saya tampak menegasi artikel karya RD tersebut saya percaya kalau artikel itu didasari fakta dan yakin sesungguhnya artikel tersebut dapat berdampak positif jika ada policy maker terkait (PB IDI, Kemenkes, Presiden) yang membaca kemudian bergerak untuk membuat perubahan nasib kesejahteraan dokter umum pada situasi-situasi yang digambarkan di sana.  Namun mengingat artikel ini sudah berusia dua tahun dan tampaknya nasib dokter umum masih belum jauh berbeda, lebih baik kita bersama membangun sikap positivisme daripada hanya berharap dalam nelangsaisme. Suatu hari sepupu saya, dr. Nurul Hiedayati, yang mendapatkan gelar doktor dalam bidang farmakologi di Jepang (sekolah spesialis terlalu mahal, lebih feasible mencari beasiswa) berkata, “Indonesia itu negara auto-pilot”, yang bisa diartikan banyak hal yang tidak sempat terurus pemerintah atau banyak hal yang kalau nggak diurus pemerintah justru bagus jalannya. Ini juga yang menjadi pijakan saya dalam berpikir dan berkarir, daripada mengharap berujung kecewa, lebih baik menjadi positif mandiri sambil terus berbagi. Itu menurut saya. Wallahu a’lam, semoga niat saya, melalui tulisan ini terhantarkan. Semoga mereka yang menyebarluaskan link “Orang Bodoh yang disebut Dokter Umum” juga berkenan menyebarluaskan tulisan ini, kasihan orang Indonesia dicokok produk (tulisan) penuh aura pesimisme melulu. Mari juga berdoa untuk kebaikan implementasi UU BPJS yang akan dieksekusi pada tahun 2014 bagi kesehatan masyarakat dan dokter umum Indonesia.


Saya bersyukur kepada Tuhan yang atas anugerah lingkungan positif yang dilimpahkan-Nya sejak saya kecil dalam jalan “becoming a doctor” melalui: Almarhum Bapak yang mencoba masuk FK, diterima di Fak Biologi, mencari sambilan sebagai detailer obat di Dexamedica. Melihat dokter yang diprospeknya setiap hari membuatnya bermimpi anaknya kelak harus ada yang jadi dokter seperti kakaknya, Prof. Abdul Salam, yang mencoba menjadi spesialis anak, terhalang biaya namun ditunjukkan jalan menjadi ahli biokimia, sejak mahasiswa merintis apa yang kemudian menjadi HSC dan terus lestari hingga kini. Dokter umum yang hingga professor makan malamnya selalu berlauk tempe. Seperti adiknya, dr. Zaenal Muttaqien, yang darinya saya belajar tidak ada satupun  hal di dunia, kemalangan, keberuntungan terjadi tanpa seizin Allah dan betapa agama dan fisiologi itu akrab satu sama lainnya. Juga seperti dr. Muchlis A. Udji yang tumbuh besar dalam keprihatinan, kuliah dengan vespa pinjaman, demi mendapat nasi kotak saat mahasiswa aktif menjadi panitia simposium setiap angkatan, menjadikannya kini tetap sumeh, runduk dan bersahaja di masa suksesnya.


Sebagai penutup, pembakar nyala api positivisme dokter umum, mengutip titah favorit dari salah seorang guru idola saya dr. Bambang Djarwoto, Sp.PD-KGH


“Dokter itu harus SEHAT, agar dapat membantu yang sakit, Dokter itu harus KUAT, agar dapat membantu yang lemah, Dokter itu harus KAYA, agar dapat membantu yang miskin!”


Semangat, Dokter Umum Indonesia!


Source : here!


Share/Bookmark

4 komentar:

Posting Komentar

Silakan berkomentar...

 
© Copyright by Good is the enemy of Great  |  Template by Blogspot tutorial