Senin, 16 April 2012

Teriakan, Saksikan Bahwa Aku Seorang Muslim !

Di sore hari (16/4) di pelataran cafetaria FKIK saya kembali menulis. Kali ini saya ingin bercerita mengenai sebuah buku yang akhirnya selesai saya baca :) Judulnya "Saksikan Bahwa Aku Seorang Muslim". Hmm, berarti ini adalah buku ke-16 yang saya baca :) ....50 buku sebelum koass!

Sekilas nampaknya ketika kita membaca judul dari buku ini yang tergambar adalah penulis ingin kita merasakan betapa kita haruslah bangga menjadi seorang muslim. Memang benar adanya, sang penulis -Salim A. Fillah, secara eskalasi dalam setiap lembarnya berusaha untuk mengangkat kebanggaan kita akan mulianya menjadi seorang muslim.

Maka tak salah jika di cover buku ini tertulis :

"Menjadi muslim adalah menjadi kain putih. Lalu Allah mencelupnya menjadi warna ketegasan, kesejukan, keceriaan, dan cinta; rahmat bagi semesta alam. Aku jadi rindu pada pelangi itu, pelangi yang memancarkan celupan warna Ilahi. Telah tiba saatnya, derai berkilau Islam tak lagi terpisahkan dari pendar menawan seorang muslim. Dan saksikan, bahwa aku seorang muslim."




Lebih dalam lagi Salim A. Fillah nampaknya ingin pembaca kembali merenungi identitas kita sebagai seorang muslim. Dalam kehidupan seseorang exist karena memiliki identitas, tak cukup sampai di titik ini, seseorang dikatakan exist dan berpengaruh jika memiliki identitas yang bisa dibanggakan. Nah, jika kita hubungkan dengan kedudukan kita sebagai seorang muslim, apakah kita benar-benar merasakan celupan warna yang Allah berikan? Apakah celupan itu telah membentuk identitas kita sebagai seorang muslim?


Ok, alkisah inilah yang Salim A. Fillah ceritakan, terbagi dalam 6 bagian :

  1. Kain-Kain Rombeng
    • Kisah-kisah jahiliyah sepanjang peradaban sejarah diungkapkan disini, membacanya terkadang membuat kita tersindir. Ya, karena apa itu jahiliyah masih ada pada diri kita. Dan selanjutnya membuat kita beristighfar dan pada akhirnya introspeksi diri.
    • Pada intinya jalinan kisah di bagian ini menginginkan kita menyingkirkan pernak-pernik jahiliyah yang masih ada pada diri kita sebagai seorang muslim. Ini sebenarnya berpedoman pada apa yang Umar bin Khattab ungkapkan :
    • "sesungguhnya ikatan simpul Islam akan pudar satu persatu, manakala di dalam Islam terdapat orang yang tumbuh tanpa mengenal jahiliyyah"
    • Maka sebagai seorang muslim hendaknya kembali menguatkan ikatan simpul Islam tersebut.
    • Jahiliyah disini bukan berarti bodoh, terbelakang, ketinggalan zaman, primitif, dan kuno. Jahiliyah disini dalam arti tidak bisa memadukan kecerdasan berpikir yang dimiliki dengan norma kemasyarakatan, atau dalam Islam, jahiliyah berarti jauh dari tatanan Islam.
    • Jahiliyah disini mampu ditransformasikan dan menyesuaikan diri sesuai zamannya dan budaya yang ada, berkolaborasi dengan pemikiran paganisme yang terukir dalam sejarah dalam sebuah kata : syirik.
    • Penyesuaian pemikiran ini terus berlangsung dengan berlindung pada kedok ilmiah, kelogisan dalam berpikir, pemaparan empiris, sehingga terlihat lebih eksotik dan elegan, kesemuanya itu direkayasa sehingga terlihat benar.
    • Seperti halnya kupu-kupu, ia mampu bermetamotfosis dari seekor ulat, lalu menjadi kepompong, dan pada akhirnya bertransformasi menjadi kupu-kupu nan indah.
    • Agar keberadaanya tetap dapat diterima dan eksistensi jahiliyah yang berakar dari kedunguan tetap bertahan lalu diterima mentah-mentah oleh segelintir golongan yang terpukau olehnya, maka kemudian diimplementasikanlah dalam ajaran-ajaran Islam sebagaimana yang pernah dilakukan oleh Abdullah Ibn Saba, seorang Yahudi, yang memasukkan kultus individualisme pada sosok Ali Ibn Abi Thalib.
    • Sehingga sejarah dengan gemilang mengenang Syi’ah sebagai simbol dendam politik benuansa mistisme psikologis bangsa Iran, lalu selanjutnya di alamatkan pada sejumlah peristiwa seoerti Asyura , Karbala, dan hari-hari besar ummat syiah lainnya yang memang dibuat beda sebeda mungkin dengan umat Islam umumnya .
    • Walau penyusupan kultus individualism bukan hal baru terjadi dalam sejarah keagamaan. Jauh sebelum ini , seperti yang pernah diutarakan oleh Karen Armstrong , Paulus seorang Yahudi , hidup sebagai Yahudi dan bahkan mati pun sebagai seorang Yahudi.
    • Karen Armstrong, seperti yang dikutip oleh Salim A. Fillah , mencatat “saya kini mengetahui bahwa Injil , yang ditulis bertahun-tahun setelah kematian Paulus, ditulis oleh orang-orang yang telah mengadopsi versi Kristennya Paulus.“ hingga Karen Armstrong menyimpulkan “ bukannya Paulus menyimpangkan Injil, namun injil itu sendiri mendapat visi dari Paulus. Bagaimana tidak? Injil yang kita kenal saat ini merupakan penyesuaian dari Paulus dkk, sehingga sesuai menurut mereka. Maka saat ini kita mengenal Injil perjanjian lama dan baru. Bagaimana mungkin sebuah kitab suci bisa diubah-ubah seperti ini?
    • Maka banggalah menjadi seorang Muslim yang berkitab suci Al-Qur'an yang terjaga keutuhannya. Bahkan Allah sendirilah yang menjaganya! 
  2. Memintal Seutas Benang
    • Dibagian ini Salim A. Fillah mengajak pembaca memulai memintal benang jati dirinya sebagai seorang muslim.
    • Seorang muslim seharusnya bangga dengan apa yang menjadi takdirnya sebagai seorang muslim. Menjadi seorang muslim tidak terpaku pada panggilan 'muslim', tidak juga hanya terpaku pada lambang, slogan, emblem, jilbab, sarung, baju koko, dan lainnya, tapi lebih dari itu.
    • Menjadi seorang muslim berarti bersedia secara penuh aka kaffah menyelami Islam dan menerima segala konsekuensi indah untuk melakukan apa yang diperintahkan Allah dan menjauhi segala larangannya.
    • Walau tak melepas identitas kita melalui panggilan 'muslim' dan seterusnya, karena Rasulullah mencontohkan dalam sunnahnya :
    • “Baguskanlah pakaian-pakaianmu dan baguskan kendaraan-kendaraanmu , agar kamu menjadi (ibarat) tahi lalat di tengah-tengah manusia “ ( HR Al Hakim dari Sahl Ibn Ar Rabi )
    • Jelaslah bahwa sebagai seorang muslim pun kita diminta untuk unjuk diri bahwa seorang muslim itu mampu dan bisa. Punya kualitas dan kapabilitas di bidang yang ditekuninya.
  3. Menggelas Benang Lelayang
    • Lanjutan bagian sebelumnya, Salim A. Fillah menekankan pada hakikat ibadah yang seharusnya diikat oleh 3 ikatan, yang saling mengikat kuat diantaranya. Ketiga ikatan itu adalah :
      • Barangsiapa menyembah Allah dengan Cinta saja maka sunguh ia Zindiq 
      • Barangsiapa menyembah Allah dengan harap saja maka ia adalah Murji 
      • Barangsiapa menyembah Allah dengan takut saja maka ia Haruri 
    • Mukmin bertauhid menyembah Allah dengan ketiganya : Takut, Harap dan Cinta.
    • Pada bagian ini juga dibahas pentingnya beribadah dengan Ihsan.
    • “An Ta’budallaaha ka’annaka taraahu. Fa in lam takun taraahu , fainnahuu yaraaka……………” hendaknya engkau beribadah kepada Allah seakan-akan engkau melihatnya, bila engkau tak melihatnya maka yakinlah bahwa Allah melihatmu.
    • Dibagian ini juga digambarkan bahwa harta kekayaan selayaknya juga digunakan untuk kepentingan ummat. 
    • Disini Islam bukan melarang umat Islam untuk berlimpah harta, akan tetapi Islam mengajarkan pada ummatnya agar harta tersebut diletakan sesuai dengan tempatnya. Harta itu seharusnya ada di genggaman, bukan dihati setiap ummat Islam.
    • Dan akan lebih baik jika harta tersebut dioptimalkan untuk kelangsungan dakwah dan jihad (ingat! jihad disini jangan selalu dikaitkan dengan peperangan seperti yang selalu kita lihat di berita TV ya ^^, kita kuliah berjuang untuk jadi dokter pun adalah jihad!..so, jangan mempersempit makna jihad ya..).
    • Lihat bagaimana Rasulullah selalu memberikan yang terbaik dalam memfasilitasi jihadnya. Peralatan perang yang digunakan Rasulullah berkualitas tinggi dan yang terbaik. Tunggangan kuda dan keledai nya pun yang terbaik dan tercepat! Pedang yang Rasulullah gunakan adalah pedang komando "Dzul Lujjain" yang tidak diragukan lagi kualitas logamnya, tempaannya, serta kehalusannya.
    • Jadi, disini kita melihat all-out nya Rasulullah dalam beribadah..Rasulullah bahkan tetap bertaubat dan bertahajud sedemikian lamanya padahal ia termasuk hamba Allah yang dijamin masuk Surga. Lalu bagaimana dengan ibadah dan taubat kita? 
  4. Menenun Jalinan Cinta
    • Pada intinya Salim A. Fillah ingin menggambarkan suatu cita luhur terbentuknya sebuah masyarakat madani.
    • Demi terbentuknya masyarakat madani maka tentu yang paling awal harus terbentuk adalah pribadi-pribadi muslim yang baik.
    • Dan dari pribadi-pribadi yang baik berintegritas tinggi ini maka 'kudu' dilanjutkan ketahap keluarga.
    • Nah, dari setiap keluarga yang sakinah ini kemudian dapat diharapkan terbentuknya masyarkat yang madani.
    • Disinilah Salim A. Fillah kembali berujar tentang cinta yang seharusnya berpulang pada pangkuan yang suci, yakni pernikahan.
    • Pernikahan adalah sebuah manhaji dimana merupakan sebuah ikhtiar kedua pasangan untuk membina rumah tangganya sehingga bisa bersinergi integral memperjuangkan Islam sampai terbentuknya masyarakat yang madani.
    • Oleh karena itu pernikahan tak hanya berbicara masalah cinta. Pernikahan seharusnya dipersiapkan dengan matang dan penuh persiapan. Baik itu niat, kemampuan, dan ilmu. Sehingga justru setelah pernikahan sinergi kedua insan menjadi optimal dan bisa berkontribusi positif bagi kejayaan Islam.
    • Kedua insan yang tentunya masing-masing memiliki kelebihan bisa saling melengkapi sehingga pada akhirnya juga akan berimplikasi pada keluarga yang sakinah, mawaddah, wa rahmah.
    • Baca juga resensi buku "Nikmatnya Pacaran Setelah Pernikahan"
  5. Menjahit Pola-Pola
    • Pada bagian ini Salim A. Fillah banyak bercerita mengenai pentingnya menjaga interaksi dengan orang lain. 
    • Pentingnya bermuamalah pada sesama dalam bermasyarakat bisa jadi poin penting terbentuknya masyarakat madani.
    • Interaksi yang terjalin tentu harus luas, tidak terbatas pada sesama muslim tapi juga dengan non-muslim. Sehingga juga menjadi syiar bahwa Islam adalah agama yang rahmatan lil 'alamin.
    • Ada sebuah kisah menarik yang diceritan Salim A. Fillah :
    • Dosen Salim A. Fillah mendapat beasiswa melanjutkan studi ke Jepang. Itu biasa! Tapi kalau dosen itu bisa mengajak orang Jepang masuk agama Islam, hmm... itu luar biasa!
    • Jadi Dosen ini tinggal disebuah apartemen, tetangganya yang orang Jepang asli sedang pergi untuk waktu yang cukup lama. 
    • Dosen ini tau kalau tetangga nya ini berlangganan koran, tapi karena tetangga nya ini tidak ada sehingga korannya tentu akan bertumpuk di  depan kamarnya. Sehingga Dosen ini pun membawanya masuk kamarnya.
    • Tatkala orang Jepang tetangganya itu sudah pulang, ia terkaget karena Dosen ini memberikan koran-koran yang seharusnya sudah bertumpuk di depan pintunya. 
    • Dosen ini berkata, "Sensei, saya menyimpan koran kamu, saya khawatir jika koran itu bertumpuk selama kamu pergi akan ada orang yang mengetahuinya dan mungkin berniat jahat untuk masuk ke kamarmu"
    • Sang orang Jepang ini tak habis pikir, kenapa ada orang yang sepeduli itu..Orang Jepang inipun berterimakasih, menunduk, bahkan sampai sujud...dan pada akhirnya masuk Islam. Subhanallah... :)
    • Dari sebuah hal ber-muamalah dengan tetangga, kita bisa menebar manfaat sedemikian besar bukan? Mulai saat ini, hormatilah tetanggamu :) kalau yang masih nge-kos, hormatilah teman se-kosan mu! hehe..
  6. Menata Busana Bertiara
    • Di akhir buku 'super' ini Salim A. Fillah mengerucutkan segala pemahaman sebelumnya dalam suatu tujuan dakwah, eksistensi Islam di dunia.
    • Cobalah perhatikan bagaimana Salim A. Fillah menyusun buku ini, ia ingin kita mengetahui bagaimana sebuah masyarakat madani itu terbentuk, diawali dari pembelajaran pribadi, belajar dari jahiliyah, mengokohkan keyakinan akan mulianya seorang muslim, membina keluarga dan saling bersinergi integral dengan masyarakat.
    • Eksistensi Islam dengan kejayaannya runtuh pada tahun 1924 H, tenggelam, dan saat ini mulai muncul sinyal-sinyal kebangkitan Islam. 
    • Masih ingat ketika as-Syeikh Yusuf Al-Qardhawi berkunjung ke Indonesia? Ia mengatakan dengan lantang dan yakin bahwa kebangkitan Islam bisa bermula dari Indonesia! Negara mayoritas muslim terbesar di dunia..yang karenanya jika setiap insan muslim di Indonesia berpegang teguh akan ke-muslim-annya maka bukan hal mustahil itu akan terjadi. Allahuakbar!
    • Mari semua muslim Indonesia kita teriakan :
      "Saksikan bahwa Aku Seorang Muslim!"

Alhamdulillah... :) selesai juga resensi buku Salim A. Fillah ini ^^
Semoga apa yang terurai dalam tulisan ini bisa memberikan gambaran gamblang dan bisa merepresentasikan isi dari buku 'super' 
"Saksikan bahwa Aku Seorang Muslim!"..Amin.


Usul : Baca bukunya ya... :) bagus dan benar-benar menambah wawasan kita!


Posting ini juga ada di kompasiana loh! klik disini..


Nih, beberapa tokoh yang merekomendasikan buku super ini :

“Ini buku yanbg mencerdaskan dan mencerahkan. Ditulis dengan bahasa yang halus dan indah. Selain mengajak mencintai Islam, buku ini mengajak pembacanya menjadi muslim sejati yang cerdas.”
(Habiburrahman El Shirazy, Penulis Novel ‘Ayat-Ayat Cinta’). 



“Renungan-renungan ringan tapi nampol. Setiap kali membaca, kita bakal ngedapetin warna baru dari halaman demi halamannya. Yang jelas, buku ini memberikan kita semangat “Gw Bangga jadi Muslim!” yang jelas gak ketulungan: karena kita muslim, maka kita bisa meraih prestasi apa saja!” 
(Shofwan Al Banna, Mahasiswa Berprestasi Utama Nasional 2006) 


NB :
Terimakasih untuk FMDM yang sudah bersedia mendengarkan sharing buku ini saat gathering ^_^


Share/Bookmark

1 komentar:

Posting Komentar

Silakan berkomentar...

 
© Copyright by Good is the enemy of Great  |  Template by Blogspot tutorial