Selasa, 14 Februari 2012

Thailand : Bangkok 'menyembunyikan' Islam

Setelah berlelah-lelah mengitari Bangkok yang panas, walau tak sepanas Jakarta, hingga petang, shalat di Masjid Chakrabongse, dan mengitari Khaosan Road akhirnya berkesempatan juga untuk menuliskah apa yang bisa saya pelajari dari sepotong waktu hidup di Bangkok. Semua karena satu alasan : jadikan sebisa mungkin apa yang dialami bisa bermanfaat untuk orang banyak. So, semoga tulisan ini bermanfaat :)

Pertama kali memasuki Thailand di border Cambodia-Thailand, saya tidak mendapati mudahnya imigrasi seperti yang saya dan teman-teman rasakan di border Vietnam-Cambodia. Wah, kami harus melewati imigrasi Cambodia yang bisa dikatakan kurang baik di perbatasan menuju Thailand, jauh lebih baik counter beli tiket masuk Dufan kayaknya, hhe:)

Dan kami harus berjalan kira2 1 km untuk imigrasi Thailand (daerah Aranyapathet), dan antrinya luar biasa panjang :) setidaknya di Border Cambodia-Thailand kami menghabiskan waktu 2 jam. Entah, mengapa kejadian ini masih sama seperti apa yang kami baca di sebuah blog yang empunya nya pernah melakukan perjalanan yang sama 3 tahun yang lalu. Sepertinya ini masih berhubungan dengan sengketa situs bersejarah macam candi/angkor yang diperebutkan di perbatasan kedua negara.

Singkatnya perjalanan Siem Reap (Cambodia) - Bangkok (Thailand) menghabiskan waktu 9 jam! Baru sampai di kawasan Khaosan Road sekitar pukul 17.30 wib. Kami langsung mencari hotel/hostel yang sesuai budget tipis kami :) akhirnya kami dapat dan setelah itu kami langsung mencari money changer disekiarnya. Selama mencari kami mendapati kawasan Khaosan ini benar-benar penuh sesak oleh turis mancanegara, hmm..mungkin 90% adalah turis.



Setelah itu tanpa sengaja kami langsung menemukan Masjid Chakrabongse dekat dengan kawasan Khaosan Road, masuk gang kecil, plus di pinggir gang kami dapati makanan berlabel halal / gambar bulan bintang. Berdasar hasil explore kawasan ini, kami hanya tau ada dua tempat makanan halal, yang pertama di dekat masjid itu yang hanya buka pagi hingga pukul 3 sore, dan Aisyah Restaurant yang lebih dekat dengan Khaosan Road. Keduanya menawarkan makanan yang variatif dan lezat, serta terjangkau kantong kita.

Kami shalat di Masjid Chakrabongse, melihat dan mengamati kegiatan yang ada. Nampak masjid ini lebih baik dan terurus dibandingkan dengan Masjid An-Ni'mah yang saya ceritakan sebelumnya. Sepertinya ada kegiatan-kegiatan rutin yang memang telah berjalan di masjid ini, nampak ada seorang ustadz yang membimbing anak-anak mengaji. 



Akhirnya waktu shalat pun tiba, kami ikut serta berjamaah maghrib dan selanjutnya kami jama' dengan shalat isya. Sayang saya belum sempat berkenalan dengan imam masjid ini, karena nampaknya beliau sangat sibuk dengan kegiatan masjid nya. 

Kawasan Masjid Chakrabongse ini seperti terbelenggu di tengah hingar bingar kota metropolitan Bangkok, apalagi Khaosan Road ini. Ibarat kata Bangkok menyembunyikan Islam. Islam benar-benar minoritas di Bangkok. Benar kata salah seorang kawan muslim Thailand yang saya temui di Terminal 3 Soehatta ketika ingin berangkat ke Vietnam, katanya kalau ada waktu dan kesempatan cobalah lihat Islam di Pattani daerah selatan Thailand. Mau lihat Islam di Thailand? Pergilah ke Pattani :)



Oya, dimalam pertama kami di Khaosan Road kami makan malam di Aisyah Resto, rata-rata kami menghabiskan 40-50 Bath (sekitar Rp.12-13rb) per orang, dengan menu nasi kuning, entah apa itu namanya, plus daging ayam yang besar. Setelah makan kami masih di tempat yang sama kami mendapatkan kenalan seorang bapak asli malaysia. Dia nampaknya tau kalau kita dari Indonesia setelah menanyakan "Dari Indonesia mana?" akhirnya kami ngobrol panjang lebar dan entah mengapa ia akhirnya seperti memberikan nasihat pada kita, 5 orang mahasiswa kedokteran ini :)

Inti nasehatnya :
1. Berislam ya cukup 1 Islam saja, jangan fanatik golongan
2. Tetap yakini bahwa kita sukses adalah karena Allah bukan karena apa yang kita usahakan.

Yah, walau saya cukup bingung dengan penjabarannya pada point ke 2. Intinya adalah kesuksesan kita adalah hak prerogatif Allah. Jika kita bilang kalau kita sukses karena usaha kita maka itu jatuhnya sudah berani menyetarakan diri dengan Allah. Maka usaha tak ada menurut beliau. Kita hanya diperintahkan berdoa.

Namun menurut saya pada intinya usaha itu merupakan aplikasi rasa ketuhanan kita pada Allah, sesuai dengan apa yang Allah katakan dalam Al-Qur'an bahwa "Allah tak akan merubah nasib suatu kaum hingga kaum itu berusaha merubahnya" (Q.S. Ar-Ra'du : 11).



Dan selain usaha, dibutuhkan do'a misal melalui sujud shalat untuk merendah menyejajarkan anggota tubuh -yang mulia menurut kita (dahi kita)- sejajar dengan tanah dan lutut kita. Merendah dihadapan Allah, berserah pada-Nya, meyakini bahwa usahanya tak akan berguna tanpa kuasa Allah.

Semoga kita termasuk ummat nya yang selalu dzikir, fikir, dan ikhtiar :)
Aaamiin..

_saya.midnight.thanon.khaosan.bangkok :)

Reference :
QS. Ar-Ra'du (13) : 11 ; Available at here!

Sedikit info :
Wow..internet via GSM Thailand (provider 'dtac') paket 'Happy Tourist' cepat!
Iseng test connection speed nya, nih lihat : kalah nih semua provider Indonesia :( T.T ___ayo dong, kan kalo kek gini mantap!



Related posting :
- Cambodia : Siem Reap Dalam Dekapan Ukhuwah
- Gallery : 5 -2- 5 : Vietnam - Ho Chi Minh
- Gallery : 5 -2- 5 : Cambodia - Siem Reap



Share/Bookmark

1 komentar:

Poskan Komentar

Silakan berkomentar...

 
© Copyright by Good is the enemy of Great  |  Template by Blogspot tutorial