Senin, 29 Agustus 2011

Sepotong Episode Hidup di Jepang (Part 1)

Akhirnya sampai juga saatnya saya menceritakan apa yang saya dapatkan selama menjalani kunjungan ke Jepang. Saya akan menjabarkannya mungkin dalam beberapa kali posting. Untuk potingan kali ini saya buat di atas bullet train “Shinkansen Sakura” perjalanan dari Shin-Yamaguchi ke Shin-Osaka sambil mendengar music Maher-Zein “InsyaAllah” (mantap nian… Alhamdulillah..)


Pelajaran 1 – Tepat Waktu
Tepat Waktu. Itulah pelajaran pertama yang saya dapatkan ketika berkunjung ke Jepang. Setiba saya di Kansai International Airport lalu membeli paket tiket Kansai Thru Pass dan bergegas menuju kereta, tepatnya menggunakan Nankai Train (yg murah.. haha) Saya mendapati penjadwalan kereta benar-benar luarbiasa. Tepat waktu. Dan membuat penumpang nyaman dan tak takut ketinggalan kereta. Jadwal bisa diakses melalui internet sehingga kita bisa menentukan waktu tercepat dan tepat menuju ke tempat tujuan.

Diluar itu memang secara umum masyarakat Jepang sangat ketat dalam mengatur waktunya, hal ini terlihat dari teman-teman mahasiswa kedokteran Jepang yang selalu hadir lebih awal dari waktu yang disepakati. Jika sepakat akan bertemu jam 12, mungkin orang Jepang sudah siap jam 11.40. Menurut mereka terlambat mendatangi pertemuan akan menurunkan kehormatan mereka, sehingga mereka lebih memilih menunggu dari pada hal itu terjadi.

(jujur saya belum bisa benar-benar menerapkannya... bagaimana dengan teman-teman?.. semoga kedepan kita bisa terus memperbaiki diri…amin)

Pelajaran 2 – Sopan Santun Saling Tolong Menolong Menghormati
Pernahkah Anda tersesat di Negeri orang? Hmm.. Saya mengalami nya ketika berada di Kobe. Tujuan saya hanya satu di Kobe ini, Saya ingin melihat Masjid Tertua di Jepang yaitu Masjid Muslim Kobe. Ketika tersesat saya akhirnya bertanya pada orang disekeliling saya. Saya bertanya pada seorang polisi. Saya tunjukan alamat yang saya tuju. Oiya, kebanyakan orang Jepang tidak bisa berbahasa Inggris..jadi dengan bahasa isyarat dan peta saya menanyakannya. Akhirnya dengan antusias Pak Polisi ini menjelaskan, sampai-sampai dia mengantarkan saya menuju ke lokasi nya. Luar biasa gak? Saya sih belum pernah nanya ke orang di Indonesia terus dianterin gitu. Haha…

Hal lainnya adalah ketika orang yang kita Tanya tidak tahu maka dengan sangat memohon maaf sambil membungkukan badan pada kita dia berkata “Sumimasen..” Kayaknya ni kata sering banget saya dengar di Jepang, sakti betul kata Sumimasen ini.

Pelajaran 3 -  Pantang Menyerah (Melewati Hiroshima Station)
Ketika Saya mengunjungi pasien korban Atomic Bomb Hiroshima (atau sebutannya adalah Hibakusha) Saya mendapatkan kesempatan untuk mendengarkan kisah seorang nenek berusia 90 tahun ketika Bomb Hiroshima meledak beberapa ratus meter dihadapannya. Baruntung dia selamat karena ketika itu dia sedang didalam rumah. Namun tetap saja efek radiasi Atomic Bomb mengenainya.

Ketika saya menanyakan mengapa beliau begitu bersemangat menghadapi hidup, beliau sambil merurai air mata menjawab, “Karena masih ada yang memperhatikan Saya, karena masih ada orang orang seperti kalian yang peduli dengan sesama” Hati saya terketuk, bahkan beberapa teman Saya yang berasal dari Jepang ada yang menangis. Kemudian salah seorang teman Saya dari Jepang, Haruno, bertanya “Apakah nenek marah kepada Amerika?” Sang Nenek menjawab., “Tidak, Saya tidak marah pada Amerika” Saya tidak tahu apakah ini benar-benar jawaban murni dari hati yang paling dalam atau tidak. Namun setidaknya saya mendapati bahwa Nenek ini ingin kita hidup damai tanpa peperangan.

Pelajaran 4 – Kalau mau kaya, jangan hidup di Jepang! (Melewati Fukuyama Station…)
Saya baru tahu kalau hidup di Jepang ini sungguh keras… hehe.. mungkin bisa dibilang lebih keras dari hidup di Jakarta. Gimana enggak? Semua apa yang kita lakukan benar-benar ketat diatur oleh pemerintahan Jepang. Apanya yang diatur? Nih tak jabarin :

1. Pajak di Jepang tinggi! Sampai-sampai parker juga begitu, parker per 30 menit 300 yen! Aka 35ribu-an rupiah! Makanya mobil di Jepang sangat sedikit karena repot kalo mau dibawa kemana-mana, parkirnya cuy.. mahal! Haha.. 

2. Bisa kaya tapi pajak juga meningkat
Kalau kita mendapatkan peningkatan gaji di Jepang maka segala hal akan ikut menyesuaikan alias ikut naik juga biayanya. Gaji naik sama aja baiya sekolah anak naik, biaya pajak tempat tinggal naik dll. Hmm.. kalau saya mikirnya mungkin karena inilah cukup banyak orang Jepang yang tidak menikah… karena tanggungan biaya yang mahal. Alasan lainnya adalah karena orang Jepang seperti tidak memiliki Tuhan, sehingga tidak ada tempat menggantungkan harapan.

3. Kebutuhan sehari-hari mahal (melewati Okayama Station)
Yups! Di Jepang, semua mahal… untuk sekali makan yang biasa saja siapkanlah uang sekitar 200-350 yen aka 25rebu s.d 40rebu rupiah! Hehe.. untung saya membawa makanan dari Indonesia sehingga tidak begitu menguras kantong dalam-dalam selain untuk transportasi yang BEUH!! Mahalnya.


Share/Bookmark

1 komentar:

Posting Komentar

Silakan berkomentar...

 
© Copyright by Good is the enemy of Great  |  Template by Blogspot tutorial