Minggu, 14 November 2010

Bahasan Ringan tentang Kaderisasi Organisasi Kampus...

Rolling Generasi aka Kaderisasi dalam Organisasi adalah sebuah keniscayaan. Ibarat kata kalau Organisasi ga punya kaderisasi sama saja Organisasi itu tidak ada. Sedemikian pentingnya sehingga kaderisasi dijuluki 'Jantung-nya' Organisasi. Dalam pengelolaannya, kaderisasi meliputi eskalasi dari mulai pengenalan awal tentang organisasi, pendekatan awal, partisipasi dalam kegiatan-kegiatan organisasi, penjagaan, sampai dengan suksesi kepengurusan organisasi.


Lalu bagaimana dengan organisasi islam? Yang menyebut dirinya adalah Lembaga Dakwah Kampus? Pada dasarnya sama saja seperti yang dijelaskan diatas. Namun, LDK dimanapun berada punya hal-hal khusus yang tidak dimiliki organisasi lain, yaitu keterkaitan penuh keimanan pada Allah dalam segala kegiatannya (terkait syiar Islam) dan niat dari setiap insan yang 'menaruh' jiwa raga nya untuk ikhlas berdakwah.

Masalah kaderisasi yang sering muncul adalah kader yang minim. Hal ini banyak dikarenakan oleh terlalu fokus nya suatu organisasi dakwah kampus pada Syiar Islam itu sendiri. Karena tidak bisa dipungkiri Syiar memegang peranan penting dalam inisiasi kaderisasi dakwah terutama dalam penyambutan mahasiswa baru. Namun terkadang lupa bahwa follow up dari syiar itulah yang harus dilakukan kemudian di-maintenance secara intensif. Mulai dari tahap inilah banyak halang rintang bagi sebuah organisasi menjaga perspektif baik tentang organisasinya serta secara perlahan mengkader mahasiswa-mahasiswa tersebut.

Selanjutnya, proses kaderisasi berujung pada sebuah goal yaitu susksesi kepengurusan. Dari beberapa organisasi yang saya ikuti dan saat tiba suksesi organisasi, selalu saja kasus 'comot sana - comot sini' terjadi, bahkan orang yang sebelumnya belum sama sekali tersentuh kegiatan apapun yang diadakan kaderisasi organisasi tersebut bisa menjadi pengurus. Menurut saya ini terjadi karena kaderisasi tidak berjalan. Wajar saja kalau orang yang direkrut tersebut awalnya 'tidak senang' dan berdampak pada kinerja yang menurun dari organisasi secara keseluruhan.

Dan Saya juga berkali-kali mendapat jawaban yang sama dari para petinggi/mantan pengurus beberapa organisasi yang saya ikuti terkait plotting setiap kader yang terkesan memaksakan kehendak ini. Jawabanya adalah :

Sudah takdirnya kamu disana....
Saya juga dulunya kayak kamu, kecebur tak bersalah tiba-tiba jadi ini... dan itu...
Ini sudah kesepakatan kepengurusan...
Kami memilih kamu karena kami percaya pada kamu...
Kamu punya latar belakang organisasi yang bagus, sehingga posisi itu pas untuk kamu...

Yah, seperti itulah.

Bagaimana sebuah organisasi / LDK melakukan sistem kaderisasi ?
Pada dasarnya ada 4 tahap :
  1. Rekrutmen - Berburu Bakat
  2. Pembentukan - Mencetak Kader
  3. Penyediaan Ladang Beramal - Positioning Kader
  4. Sistem Kontrol Kader
>> Recycle : Berulang lagi dari tahap awal...

Dari setiap tahap berkelanjutan itulah kita mendapatkan SDM yang tepat untuk selanjutnya meneruskan hidup sebuah organisasi. Kalau toh plotting dilakukan secara musyawarah, maka hasil plotting tersebut dapat dipertanggungjawabkan pada orang yang ter-plotting tersebut. Penjelasan logis terukur dengan parameter yang jelas mengapa ia ditempatkan disana Saya rasa sangat penting. Selain menguntungkan bagi organisasi juga menguntungkan bagi orang terpilih tsb.

Saya yakin ini sulit. Buktinya banyak organisasi yang mengalami kesulitan serupa. Tinggal bagaimana merubahnya. Itu saja.

Moga bermanfaat^^


Share/Bookmark

4 komentar:

Posting Komentar

Silakan berkomentar...

 
© Copyright by Good is the enemy of Great  |  Template by Blogspot tutorial