Jumat, 02 April 2010

KEMILAU RAMBUTNYA YANG BEGITU INDAH



Video inspiratif yang disampaikan pada Achievement Motivation Training. Berkisah tentang seorang perempuan yang bisu dan tuli. Ia memiliki keinginan yang luar biasa ditengah kelemahan fisik yang dimilikinya. Bagaimana mungkin seseorang yang tidak bisa mendengar bisa memainkan musik dengan benar? Dia sendiri tidak mengetahui bagaimana suara itu bisa terdengar.

Namun segala keterbatasan bukanlah penghalang untuk 'BISA'. Banyak tokoh-tokoh terkemuka di dunia ini yang memiliki keterbatasan fisik dan mental tapi mereka bisa mengatasinya dan membuktikan bahwa mereka BISA. Berbagai literatur menunjukan bahwa tidak ada korelasi antara tingkat kecerdasan seseorang dengan keterbatasan fisik dan mental.



Film diatas adalah iklan sebuah produk shampoo kenamaan yang telah dibuat di negeri Thailand. Saat ini saya tidak ingin membahas film itu dalam perspektif sebuah marketing dan kreativitas sebuah iklan. Namun saya ingin sekali memaparkan apa yang saya pikirkan ketika saya selesai melihat video itu.

Mari kita sedikit ikuti kembali percakapan antara si gadis tuli bersama gurunya yang juga tuli. Ada yang menarik disini.

Guru : “You still play the violin?”

Wanita : “Why am I different from others?”

Guru : “Why…..”

Guru : “..do you have to be like others?”

Guru : “Music…is a visible thing…Close your eyes…You will see…”

Saya mencoba menghayati percakapan diatas. Dan saya coba mengaitkannya dengan kehidupan sebenarnya. Tidak semua orang dilahirkan dengan sempurna, pasti setiap orang memiliki kelebihan dan kekurangan masing-masing. Kita tidak mesti menjadi orang lain, karena kita memang dan saya yakin pasti berbeda. Allah yang menciptakan manusia dan Allah tidak mungkin 'kehabisan' model manusia yang diciptakan-Nya. Maka jadilah Anda apa adanya dengan segala kekurangan dan kelebihan Anda!

Mari kita kembali pada film inspiratif tadi. Pada awalnya sang wanita sangat sedih karena dengan kekurangannya (baca : tuli) pada temannya. Ia merasa bahwa kekurangannya itu membuatnya ia terkucilkan dan membuat ia berbeda dari kebanyakan manusia yang normal. Dalam kesepiaannya itu, diam-diam ia melatih bakat terpendamnya untuk dapat bermain biola. Dia terinspirasi oleh seorang tua tuli pandai bermain biola yang sering mengamen di pinggir jalan yang ia lewati.

Bakatnya ini sempat terkungkung oleh lingkungan sekitarnya. Ia pun mencoba membangkitkan semangatnya kembali dengan cara bertemu dengan inspirator sejatinya, seorang tua pemain biola tadi -sang guru-. Selanjutnya, terjadilah percakapan antara sang guru dan sang murid. Sang guru telah menjelaskan pada sang murid bahwa jangan berfokus pada kekurangan pada diri kita yang menyebabkan kita berbeda dengan orang lain. Tetapi fokuslah untuk terus mengasah kemampuan musiknya.

“Music…is a visible thing…Close your eyes…You will see…”

Sang guru telah berhasil mengajarkan sesuatu yang penting pada muridnya, bahwa yang terpenting bukanlah terus menyesali apa yang telah menjadi bagian diri kita, tetapi yang terpenting adalah maknailah apa yang kita kerjakan.

Singkat cerita, dengan berbagai perjuangannya akhirnya sang wanita berhasil mengikuti ajang kontes musik dengan semangat yang berbeda seperti yang dulu. Kini ia mampu memaknai apa yang ia kerjakan. Ia tidak takut lagi berbeda dengan lainnya. Dengan atraksi memukaunya (dan tentu saja dengan kemilau rambutnya yang begitu indah) akhirnya mampu membuat semua juri tak mampu lagi berkata-kata -speechless- dan membuat semua hadirin yang ada disana memberikan standing applause kepada wanita itu.

Mungkin film diatas bisa jadi benar dan bisa jadi salah. Namun itu tidaklah menjadi masalah. Ada sekian banyak cerita nyata dan inspiratif, mengisahkan keberhasilan orang-orang yang memiliki serba kekurangan didalam dirinya namun mampu menjadi orang besar pengukir prestasinya di dunia ini.

Mulai dari ketulian seorang Ludwig Van Bethooven hingga kelumpuhan Syekh Ahmad Yasin tidak membuat mereka mengalah pada mimpi-mimpinya. Mereka tetap bisa menjadi orang-orang besar yang mengisi lembaran sejarah dunia ini. Dalam batas-batas kekurangan fisiknya, mimpi mereka jauh melebihi keterbatasannya. Ludwig Van Bethooven tetap berjaya dalam karya-karya musiknya dan Syekh Ahmad Yasin pun tetap berjaya dalam organisasi HAMAS Palestinanya yang sampai sekarang tetap gigih melawan zionis yahudi tanpa ada rasa gentar sedikitpun.

Maka agar terkesan sedikit bijak, izinkan saya menutup tulisan saya kali ini dengan sebuah kesimpulan singkat. Mereka yang memiliki serba kekurangan saja berani bermimpi menjadi orang-orang besar, apakah kita yang jauh lebih sempurna fisiknya ini masih takut untuk bermimpi besar? Tal perlu kau lafalkan jawabannya. Tetapi jawablah dengan jujur didalam celah langit hatimu saja. Dan bergeraklah merealisasikan mimpimu.

Referensi :
http://ryanalfiannoor.wordpress.com/2009/08/13/kemilau-rambutnya-yang-begitu-indah/


Share/Bookmark

2 komentar:

Posting Komentar

Silakan berkomentar...

 
© Copyright by Good is the enemy of Great  |  Template by Blogspot tutorial