Selasa, 17 November 2009

Nasehat Sang Profesor

Hari Senin kemarin tanggal 16 November 2009 saya mendapatkan banyak hikmah. Keduanya terasa special karena saya dapati dalam satu hari itu juga dan berkaitan satu sama lain. Jujur kedua hal luar biasa ini telah membuat hati ini bergetar bagaikan senar gitar yang dipetik. Suatu yang jarang saya dapatkan akhir-akhir ini.



Baiklah akan saya ceritakan hikmah yang pertama, bagian kedua akan saya ceritakan di posting berikutnya (insya Allah). Pagi itu saya seperti biasa melakukan rutinitas harian yaitu kuliah. Saat ini saya sedang menjalani Modul Sejarah Ilmu Kesehatan dan Kedokteran. Ceritanya mata kuliah kedua tentang ‘Sejarah Kebudayaan Islam’ dimulai sekitar jam 10.00 wib. Dosen baru tiba kira-kira 10 menit dari waktu yang dijadwalkan. Beliau adalah Prof. Dr. Rusmin Tumangor. Seorang dosen senior di UIN Syarif Hidayatullah. Saya pikir beliau termasuk dosen yang kharismatik dan sangat berpengalaman. Terlihat dari bagaimana beliau menyampaikan materi dan pengalamannya.

Singkat cerita diakhir-akhir penghujung kuliah beliau bertanya,

“Siapa diantara kalian yang merokok?”

Saya menoleh kebelakang karena saya tahu teman saya yang memang seorang perokok. Bah, dia tak mengaku rupanya. Sang Profesor pun berjalan dan menanyakan perihal tersebut kepada mahasiswanya satu per satu.

“Kau merokok?” , sambil menunjuk seorang teman saya.
Teman saya menjawab, “Baru akan berhenti, Prof..”  Berarti kan masih merokok?!
Yang lainnya silih berganti menjawab pertanyaan tersebut.
Cukup banyak diantara kita yang merokok.

Setelah itu beliau kembali kedepan dan memberikan hikmah bagi kami. Berikut kira-kira petikan nasihat beliau (dengan sedikit pengurangan ataupun penambahan) :

Saya sarankan kalian untuk tidak merokok. Benar-benar disayangkan. Jangan dilihat dari sisi pribadi kalian masing-masing, tapi cobalah pikirkan bagaimana orangtua kalian mencari nafkah, mencari dengan kucuran keringat tiada terhenti. Orangtua kalian rela berbuat apapun dikampung sana (karena hamper 75% dari kita dari luar Jakarta) hanya untuk kalian! Mereka rela menjual tanah mereka, mereka rela pinjam kesana kemari, untuk apa? Supaya kalian bias sekolah! Supaya kalian menjadi seorang dokter!

Lalu apa jadinya jika mereka mengetahui uang yang mereka kumpulkan hanya digunakan untuk merokok! Bagaimana perasaan mereka? Itu sama saja kalian membakar uang keringat bapak ibu kalian!

Apa jadinya jika mereka mengetahui uang yang mereka berikan hanya digunakan untuk berfoya-foya, hang out kesana kemari, nonton film yang tidak bermoral di bioskop, bermalas-malasan! Bagaimana perasaan mereka? Itu sama saja kalian bersenang senang diatas rintih sakit keringat bapak ibu kalian!

Beh, nancap betul dihati ni… Astagfirullah! Apa yang sudah selama ini saya lakukan? Banyak betul perbuatan sia-sia yang telah saya lakukan. Sementara bapak dan ibu rela membanting tulang siang dan malam untuk anaknya kuliah di Jakarta.

Neh, ada tambahan kisah pengalaman saya…

Beberapa kali ibu pernah bertanya (dalam percakapan di telepon), begini ceritanya…
“A, gimana kuliahnya? Susah ya? Capek ya?”, tanya ibu.
Dengan santainya saya menjawab, “Biasa aja”. Padahal memang capek sih…

Tetapi setelah dipikir-pikir, saya baru sadar bahwa Segimana sih capek dan susahnya kita dibandingkan kecapekan dan kesusahan bapak dan ibu kita? Tapi ibu sering menanyakan hal ini ketika beliau menelepon dan tidak diangkat angkat. Bukan karena saya tidak menghormati orang tua, tetapi kondisi yang mengharuskan hp disilence. Nah, sebab itu pula saya sering lupa menonaktifkan silence hp saya… Ya Allah, saya mencintai Ibu dan Bapak karena-Mu. Terimakasih Ibu Bapak!


Share/Bookmark

3 komentar:

Posting Komentar

Silakan berkomentar...

 
© Copyright by Good is the enemy of Great  |  Template by Blogspot tutorial